Minggu, H / 01 Maret 2026

Sadar Sebelum Terlambat

Jumat 16 Jan 2026 09:16 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku adalah atasan mereka. Setiap pagi aku datang dengan daftar target, grafik kinerja, dan tenggat waktu yang menunggu untuk ditagih. Aku terbiasa bicara cepat, memberi instruksi tegas, dan mengoreksi dengan nada yang kuanggap wajar. Bagiku, hasil adalah bukti cinta pada pekerjaan. Sampai suatu hari, aku menyadari ada yang berubah, bukan pada angka, tapi pada suasana.


Timku tetap patuh. Tidak ada bantahan. Tidak ada yang resign. Semua berjalan rapi dan profesional. Namun ruangan terasa sunyi. Senyum hanya formalitas. Aku jengkel, marah dalam diam. Mengapa mereka tidak seantusias dulu? Aku merasa tidak didukung, seolah bekerja sendirian. Tegang. Melelahkan. Menguras emosi.


Aku menekan lebih keras.


Kupikir tekanan akan mengembalikan semangat. Yang terjadi justru sebaliknya, jarak makin lebar. Malam itu aku pulang dengan dada sesak. Dalam doa yang panjang, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku memimpin, atau hanya menuntut?” Pertanyaan itu menamparku lebih keras dari kritik siapa pun.


Aku tersadar, selama ini aku mendengar untuk menilai, bukan memahami. Aku berbicara untuk benar, bukan untuk menyambung hati. Aku lupa, kekuasaan bisa membuat tuli, tuli pada rasa, tuli pada manusia. Air mataku jatuh. Bukan karena timku lemah, tapi karena aku lalai.


Keesokan harinya, aku datang dengan langkah yang sama, tapi hati yang berbeda. Aku mulai bertanya, lalu diam. Aku belajar menahan ego. Tidak ada drama. Tidak ada perlawanan. Justru keheningan itu menjadi ruang pemulihan. Aku melihat harapan kecil kembali tumbuh, pelan, tapi nyata.


Aku belajar, kesadaran adalah anugerah yang datang sebelum terlambat. Konflik bukan musuh, melainkan cermin. Dan setiap kejadian, sekeras apa pun, selalu membawa hikmah untuk menjadikanku pemimpin yang lebih manusiawi.


Kesadaran diri adalah titik balik kepemimpinan yang sejati.


Mari kita berhenti sejenak, bercermin, dan sadar sebelum terlambat. Karena saat kita berubah, ruang di sekitar kita ikut sembuh.


"Kesadaran diri adalah awal dari kebijaksanaan.”

— Socrates


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA