ESQNews.id, JAKARTA - Dunia pendidikan Indonesia tengah diguncang oleh rentetan kasus pelanggaran moral atau pelecehan seksual di berbagai perguruan tinggi ternama. Fenomena ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan alarm keras akan krisis moral yang mengancam integritas lingkungan akademik.
Motivator dan penulis buku ESQ, Ary Ginanjar Agustian, menyebut situasi ini sebagai hal yang “memprihatinkan dan menyedihkan.” Ia menyoroti bahwa ketergantungan pada kecerdasan intelektual (IQ) semata telah menjadi kesalahan fatal dalam sistem pendidikan Indonesia.
“Memprihatinkan dan menyedihkan. Sebenarnya 25 tahun yang lalu hal ini sudah saya tuliskan dan saya jelaskan dalam buku ESQ. Bahwa kecerdasan intelektual itu tidak cukup untuk membangun sumber daya manusia. Dia hanya berperan 10 hingga 20 persen,” ujar Ary dalam unggahan instagram pribadinya dikutip Sabtu (18/4).
Menurutnya, manusia membutuhkan kecerdasan emosional (EQ) untuk memahami batasan, dan kecerdasan spiritual (SQ) sebagai penuntun nurani. Tanpa dua elemen tersebut, kampus hanya akan mencetak “orang buta yang punya pedang.”
“Kita bayangkan mereka masih mahasiswa. Kalau nanti mereka jadi pemimpin betapa berbahayanya apabila mereka punya IQ tanpa EQ dan SQ. Manusia tanpa EQ dan SQ ibarat orang buta yang punya pedang. Sangat berbahaya,” tegasnya.
Deretan Gelombang Kasus Pelecehan Seksual di Kampus
Pernyataan Ary Ginanjar seolah menjadi refleksi atas berbagai laporan kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang mencuat di berbagai universitas sepanjang April 2026.
https://www.instagram.com/reel/DXLPzx6ku7j/?igsh=aGNhM21jZHYzeXU4