Senin, H / 13 April 2026

Ketika Deadline Ketemu Ikhlas

Jumat 20 Feb 2026 14:32 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Deadline itu datang seperti tamu tak diundang. Pagi belum sepenuhnya hangat, tapi ruang rapat sudah dipenuhi wajah tegang. Sebagai atasan, aku berdiri di depan tim dengan dada yang terasa sempit.


Target belum tercapai, waktu makin menipis, dan tanggung jawab ada di pundakku. Nada suaraku meninggi. Bukan marah pada mereka, sebenarnya, aku marah pada keadaan, dan diam-diam pada diriku sendiri.


Aku melihat mata-mata yang menunduk, napas yang ditahan, jari-jari yang saling menggenggam. Ada jengkel, ada lelah, ada kecewa yang tidak diucapkan. Di kepalaku, angka-angka berputar, tenggat waktu berdetak keras. Sebagai pemimpin, aku merasa harus kuat. Tapi saat itu, aku justru rapuh.


Di sela keheningan, aku menarik napas panjang. Entah mengapa, satu kata muncul di benakku: ikhlas. Kata yang sering kita ucapkan, tapi jarang kita praktikkan di tengah tekanan. Aku menurunkan suara, menurunkan ego.


Aku akui kelelahan kami bersama. Aku akui kekuranganku dalam mengatur ritme. Ruangan itu berubah, bukan jadi ringan seketika, tapi lebih jujur.


Kami kembali ke meja kerja. Bukan dengan semangat membara, melainkan dengan niat yang dibenahi. Aku memilih mendampingi, bukan mengawasi. Mendengar, bukan menuntut.


Ajaibnya, di tengah keterbatasan waktu, fokus kami justru menguat. Ada tawa kecil di sela tegang, ada saling bantu tanpa diminta. Deadline tetap deadline, tapi hati kami tak lagi saling menekan.


Hari itu, target tercapai, tidak sempurna, tapi cukup. Lebih dari itu, aku belajar, kepemimpinan bukan soal kerasnya tuntutan, melainkan lapangnya hati. Deadline menguji kompetensi, ikhlas menguji karakter. Dan keduanya bisa berjalan bersama, jika kita mau merendah.


Tekanan tak selalu butuh ditambah suara keras. Kadang ia butuh ditenangkan dengan kejujuran dan keikhlasan.


Mari kita hadapi target dengan niat yang dibenahi. Mari kita pilih hadir sebagai manusia sebelum menjadi jabatan. Karena saat hati tenang, kerja menemukan jalannya.


“Dalam hidup, yang paling menentukan bukan apa yang terjadi pada kita, tetapi bagaimana sikap kita menghadapinya.” — Viktor Frankl


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA