Minggu, H / 01 Maret 2026

Berani Berkata Tidak

Senin 12 Jan 2026 08:22 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku pernah berada di posisi yang tidak nyaman menjadi atasan yang harus memilih antara disukai atau bertanggung jawab. Di hadapanku, tim duduk dengan wajah lelah. Target menumpuk, tenggat semakin sempit, dan dari manajemen atas datang satu permintaan lagi, percepat, tambah, sempurnakan. Dadaku menegang. Aku tahu, jika aku berkata “iya”, timku akan kembali mengorbankan malam, keluarga, dan kesehatan. Jika aku berkata “tidak”, reputasiku sebagai pimpinan dipertaruhkan.


Ada emosi yang berdesakan. Jengkel karena ekspektasi tak realistis. Marah karena kerja keras tim sering dianggap biasa. Sedih melihat mata-mata yang mulai kehilangan cahaya. Namun aku juga takut, takut dicap tidak loyal, takut dianggap lemah. Malam itu, aku berdoa lama. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah kepemimpinan hanya tentang memenuhi perintah, atau tentang menjaga manusia?


Keesokan harinya, dengan suara bergetar tapi niat yang lurus, aku berkata “tidak”. Bukan menolak tanggung jawab, melainkan menetapkan batas. Aku jelaskan risikonya, data kerjanya, dampaknya bagi tim. Ruangan tegang. Sunyi yang panjang. Aku siap menerima konsekuensinya. Anehnya, yang terjadi justru kelegaan, bukan hanya di wajah timku, tapi juga di dadaku sendiri.


Aku belajar, berkata “tidak” bukan berarti melawan. Ia bisa menjadi bentuk tertinggi dari amanah. Timku tidak bersorak, tidak pula membangkang. Mereka bekerja dengan fokus yang baru, dengan kepercayaan yang tumbuh. Dan aku, aku belajar mendengar lebih dalam, mengelola emosi, dan memimpin dengan keberanian yang tenang.


Aku tidak menyalahkan sistem, tidak pula menuding siapa pun. Aku memilih introspeksi. Mungkin selama ini aku terlalu sering berkata “iya” demi aman, lupa bahwa keberanian juga bagian dari ibadah kepemimpinan. Dari konflik itu, aku menemukan hikmah, batas yang sehat melahirkan kinerja yang berkelanjutan.


Keberanian berkata “tidak” dengan adab dan data adalah bentuk kepemimpinan yang melindungi manusia sekaligus tujuan.


Mari kita berani menetapkan batas dengan bijak. Kita jaga amanah, rawat tim, dan pimpin dengan hati yang jernih. Dengan begitu, kita tumbuh bersama.


"Keberanian adalah harga yang harus dibayar untuk hidup sesuai nurani.”

— Winston Churchill


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA