Jumat, H / 29 Mei 2026

Meja Kerja dan Sajadah Kecil

Selasa 24 Feb 2026 16:39 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK

ESQNews.id, JAKARTA - Pagi itu meja kerjaku penuh berkas. Target belum tercapai, laporan belum rapi, dan tenggat semakin dekat. Sebagai atasan, aku merasa semua mata tertuju padaku. Tekanan itu perlahan mengeras menjadi emosi.

Dalam rapat, suaraku meninggi. Kata-kataku tajam. Aku melihat wajah-wajah lelah di hadapanku, tidak ada perlawanan, tidak ada bantahan. Hanya diam yang berat. Anehnya, justru diam itulah yang membuat dadaku sesak.

Aku marah, jengkel, dan kecewa. Namun setelah rapat usai, aku sendirian di ruangan. Di sudut dekat lemari, ada sajadah kecil yang sering terlipat rapi. Aku menatapnya lama. Ada rasa haru yang tiba-tiba muncul. Aku merasa kecil. Meja kerja ini sering membuatku lupa bahwa aku juga manusia yang sedang diuji.

Aku menggelar sajadah itu. Dalam hening, aku menyadari betapa sering aku meminta hasil, tetapi lupa menata hati. Betapa sering aku menuntut kesempurnaan, tetapi lupa memberi ruang.

Air mata jatuh, bukan karena timku, melainkan karena egoku sendiri. Aku sadar, kepemimpinan bukan hanya tentang keputusan cepat, tetapi tentang ketenangan batin.

Siang itu, aku kembali menemui tim. Nadaku lebih pelan. Aku mendengar lebih lama. Aku mengakui kekuranganku tanpa menyalahkan siapa pun.

Suasana berubah. Tegang mencair.
Ada senyum kecil yang muncul, ada semangat yang perlahan kembali. Target tetap menantang, pekerjaan tetap berat, tetapi kami berjalan dengan hati yang lebih selaras.

Hari-hari berikutnya, meja kerja dan sajadah kecil itu menjadi pengingat. Ketika emosi naik, aku berhenti sejenak. Ketika tekanan datang, aku menunduk. Aku belajar bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin adalah kemampuannya mengelola diri.

Ketegasan tanpa ketenangan melukai, tetapi ketenangan melahirkan kepercayaan.

Mari kita jaga keseimbangan antara kerja dan jiwa. Kita benahi hati sebelum membenahi orang lain, karena dari sanalah keberkahan tumbuh.

Aku tidak menyalahkan keadaan. Aku memilih belajar. Ternyata, di balik konflik selalu ada hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Orang yang paling kuat adalah dia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.” — Nelson Mandela

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA