ESQNews.id, JAKARTA - Ada kebiasaan yang saya bawa sampai sekarang dari Dunamis - konsultan pertama tempat saya bekerja. Memberikan satu hari dalam sebulan untuk kegiatan volunteering. Dan hari ini saya dapat kelonggaran waktu menjalankannya.
Kegiatan ini saya lakukan di TLF (The Learning Farm). Saya berbagi mengenai "Bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik." Dulu tempatnya setelah Istana Kepresidenan Cipanas, dikelilingi kebun teh yang luas. Kalau malam dinginnya minta ampun.
Saat sesi pagi di dalam kelas biasanya saya tanya,"Siapa yang belum mandi?" Dan selalu saja ada yang mengangkat tangan, biasanya peserta yang datang dari provinsi bersuhu panas.
Siang menjelang sore kami biasanya bermain sebentar di bawah pohon rindang dengan karpet alam dari rumput hijau dengan angin yang berhembus menyegarkan.
Berlarian dengan kaki menapaki rumput itu sesuatu. Beberapa tahun belakangan TLF pindah ke dekat Taman Bunga Nusantara. Masih dingin, tapi lebih hangat. Lebih banyak tetangga kanan-kiri.

Pesertanya adalah 40 remaja rentan yang datang dari seluruh Indonesia untuk dididik selama seratus hari di bidang pertanian organik.
Sejatinya, pertanian hanya media. Perubahan, itu sasaran utamanya. Bermacam-macam latar belakang pesertanya. Yang jelas bukan dari golongan yang beruntung secara ekonomi.
Di keseharian, mereka bertempur untuk mendapatkan hal-hal receh yang kita nikmati.
Sering kalau saya di depan tampak jelas pandangan mata yang kosong, guyonan yang di luar batas, dan dulu kalau role play saya suka geleng-geleng kepala, ada adegan mabuk dan berkelahi. Sekarang role play-nya saya ganti dengan aktivitas lain.

Tapi saya suka di sini. Yang paling saya sukai pas saya tanya,"Teman-temen, habis ini kita menggambar ya. Sekarang 1 April 2017.
Bayangkan tanggal yang sama 10 tahun lagi. Dapat?" Lalu saya lanjutkan lagi, "Gambarkan apa yang ada di sana ya... Lagi kerja, atau lagi apa. Gampang kan ya..?"
Ada yang langsung menggambar. Ada yang masih mikir. Ada yang garuk-garuk kepala.. Pas sesi ini saya keliling kelas, melihat satu-satu, menanyakan lagi satu-satu.
"Kok masih kosong?"
"Iya kak, gak tahu mau gambar apa..." saya duduk di dekatnya. Saya ulang yang saya sampaiakn di depan kelas tadi, p e l a n - p e l a n.
"10 tahun lagi... 1 April 2027, jam 10 pagi, kamu lagi dimana..?
"Emm... lagi kerja.." jawabnya mulai memberanikan diri.
"Kerja dimana?" tanya saya.
"Di kebun.." dia menjawab.
"Kebun siapa?"
"Kebun saya," wah sudah mulai pede.
"Kebunnya luas atau sempit..?" tanya saya lagi.
"Luas.." jawabnya sambil mulai membenahi duduknya lebih tegap.
"Berapa banyak pegawainya?"
"Eeeemmm..... 100?" wajahnya seperti minta persetujuan saya, boleh gak ngasi angka segitu..
"Ok sip. Masukin semua di gambar ya.. " sambil saya kasi jempol. Seketika! Anda akan melihat percikan api dari matanya!
Inilah yang membuat saya senang.
Hal-hal seperti ini bikin saya bahagia.
Hal-hal sederhana.. akan saya lakukan sampai udara terakhir keluar dari paru-paru saya.

Siang nanti, gambar-gambar itu akan mereka ceritakan kepada teman-temannya yang lain. Selain belajar mempresentasikan apa yang sudah dilakukan, aktivitas ini juga bertujuan agar mereka lebih yakin dengan apa yang digambarnya.
Setelah itu, gambarnya akan ditempel di tempat yang biasa mereka lihat setiap hari (tapi bukan di area umum).
Meski saya berkontribusi cuma satu hari, tapi rasanya berkontribusi disini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Sambil menunggu mereka selesai menggambar, saya melihat tulisan-tulisan di dinding hasil karya batch-batch sebelumnya. Di sudut ruangan, ada yang menarik. Di situ tertulis, "Jangan lupa bahagia, ok?"

Dan kalau Anda lagi ada waktu kosong barang 5 menit, bisa juga lho, iseng-iseng nanya ke diri sendiri, bahasa kerennya self coaching.

Berani coba? Cobalah.
Cipanas, 1 april 2017
Dimuat di buku: Bertempurlah Tapi Dengan Gagah 2, Iwan Pramana, Insan Mandiri Cendekia, 2020. ISBN: 978-623-93948-3-7





