ESQNews.id, JAKARTA - Ok, mari kita lanjut edisi sebelumnya. Saya janji akan ngebahas asal-usul coaching deh kalo gak salah.
Nah salah satu referensi bagus untuk membahas hal ini ditulis oleh Vikki G Brock, yang menulis panjang lebar tentang sejarah coaching.
Buku ini gak sengaja ketemunya, gara-garanya saya kudu mencari sejarah coaching untuk bikin tulisan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.
Yang bikin saya kaget: Brock bilang akar coaching itu jauh lebih tua daripada yang kita kira. Jauh sebelum human potential movement tahun 1960-an.
Jauh sebelum consulting, HR, bahkan sebelum psikologi dan psikiatri jadi disiplin. Intinya: coaching itu lebih tua dari akar disiplin yang belakangan membentuk coaching modern. Kesimpulan sementara: Coaching itu ilmu kuno.
Nah, pas baca bagian ini, otak saya langsung nyeleneh:
"Jangan-jangan Nabi Adam itu seorang coach."
Kok bisa? Ya bisa dong. Logis malah.
Coaching itu berbasis percakapan, kan? Dan percakapan itu bukan hal baru. Bukan temuan mutakhir. Coba deh… kan belum ada buku yang bilang bahwa “percakapan” ditemukan oleh seorang ilmuwan yang telah mengamati dengan seluruh jiwa raga selama berpuluh-puluh tahun… lalu akhirnya menemukan temuan maha keren yang kini disebut: "Percakapan", di mana ada yang bertanya, ada yang menjawab, ada yang mendengarkan, ada yang bercerita.
Percakapan itu sudah ada dari dulu. Yang baru itu cuma labelnya: kita sekarang menyebut sebagian percakapan sebagai coaching.
Dan di sinilah Brock menarik garis yang menarik: contoh praktik yang “mirip coaching” itu sudah ada sejak zaman kuno. Ribuan tahun sebelum istilah life coach muncul, dan jauh sebelum business coach lahir di dunia korporasi.
Bahkan, orang-orang dengan peran yang sangat mirip coach - suka-suka Anda saja nyebutnya apakah disebut mentor, instruktur, atau guru - sudah muncul di sejarah awal aktivitas manusia.
Terus bagian yang bikin saya makin manggut-manggut adalah ketika Brock menyebut para filsuf di Timur dan pelatih atletik kuno di Yunani sebagai praktisi awal coaching. Di Timur, latihan fisik banyak terkait seni bela diri.
Di Yunani, bukti visual di amfora (bejana, guci) menunjukkan bahwa pelatih atletik sudah punya peran selama hampir tiga ribu tahun. Intinya: “coach” dalam makna membantu orang mencapai sustainable superior performance itu sudah lama banget eksis.
Ketika filsafat Yunani berkembang, Brock bilang, disitulah dunia Barat melihat “personal coach” pertamanya: Socrates. Kenapa Socrates? Karena menurut Brock, dialog Socrates memperlihatkan bahwa ia mendorong self-understanding dengan bertanya.
Dan yang menarik, hal serupa dilakukan filsuf di Timur seperti Confucius, Buddha, Yesus dan Muhammad SAW. Ternyata, orang-orang hebat yang mengisi relung religi kita adalah seorang coach.
Jadi, jauh sebelum coaching jadi industri, cara membimbing manusia lewat dialog reflektif itu sudah lama dipraktikkan. Yaitu dengan:
a) Pertanyaan yang menggugah.
b) Percakapan yang membuat orang “ngeh”.
c) Ajakan untuk melihat ke dalam diri sendiri.
Ini semua terasa mirip sekali dengan apa yang hari ini kita sebut coaching, bukan?
Sampai sini, saya makin yakin: coaching itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena dunia korporasi butuh performance. Coaching itu lebih mirip warisan panjang—yang kemudian “dirapikan” dalam bentuk model, kompetensi, dan sertifikasi.
Kesimpulan akhir: Coaching itu, ilmu kuno, salah satu puncak legacy dari para pendahulu. Ia mengajarkan satu hal: Bepikirlah, Think.
Brock sebenarnya sedang mengajak kita melakukan satu hal penting: menggeser cara kita mendefinisikan coaching.
Coaching bukan sebagai “produk modern” dengan model dan sertifikasi, tapi sebagai pola interaksi manusia yang sudah lama ada: percakapan yang membantu seseorang berpindah dari “tidak sadar” menjadi “sadar”, dari “kabur” menjadi “jernih”, dari “reaktif” menjadi “proaktif”.
Kita lanjut di edisi berikutnya ya. Saya akan bahas asal-usul coaching dari kacamata sejarah keilmuan sampai jadi praktik seperti hari ini.
Tetap sehat, tetap semangat!