Senin, H / 18 Mei 2026

Rayakan Milad ke-26 ESQ, Mahasiswa UAG University dan EBS Sukses Pentaskan Teater Kolosal "Hamba Sang Maha Cahaya" di Graha Bhakti Budaya TIM

Minggu 17 May 2026 13:26 WIB

Reporter :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. UAG University

ESQNews.id, JAKARTA – Panggung seni tanah air kembali mencatatkan momentum penting yang memadukan kreativitas estetis dan edukasi karakter. 

Kelompok seni "Teater Tepi Waktu" yang digawangi oleh para mahasiswa penerima beasiswa Indonesia Emas Scholarship (Fellowship) dari Universitas Ary Ginanjar (UAG University) dan ESQ Business School (EBS), sukses menggelar pementasan teater kolosal bertajuk “Hamba Sang Maha Cahaya” di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu 16 Mei 2026.

Pertunjukan yang digelar dalam dua sesi (siang dan malam) ini berhasil menyedot perhatian lebih dari 1.700 penonton.

Pementasan ini dihadiri oleh jajaran tokoh nasional, pejabat pemerintahan, sastrawan legendaris Taufiq Ismail, alumni dan fellows ESQ, civitas akademika, komunitas seni budaya, hingga generasi muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa.



Refleksi 26 Tahun Perjalanan Spiritual dan Estafet Nilai

Teater "Hamba Sang Maha Cahaya" merupakan adaptasi langsung dari novel biografi karya penulis kondang Ahmad Fuadi yang mendokumentasikan perjalanan hidup Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ).

Pementasan ini bukan sekadar dramaturgi biografis biasa, melainkan sebuah refleksi emosional tentang bagaimana seorang manusia menghadapi ambisi, badai krisis, kehilangan, hingga pencarian makna hidup terdalam melalui integrasi tiga kecerdasan: intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ).



Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, menyampaikan rasa haru dan apresiasi yang mendalam atas dedikasi para mahasiswa yang mampu mengemas pesan-pesan moral universal secara mandiri dan profesional di panggung sekelas TIM.

"Bukan sekadar pertunjukan seni. Tetapi refleksi perjalanan, perjuangan, air mata, keyakinan, dan cahaya nilai-nilai yang terus dijaga selama 26 tahun perjalanan ESQ. 

Yang paling membahagiakan bagi saya bukanlah ketika perjalanan hidup itu dipentaskan, tetapi ketika nilai-nilai perjuangan itu mulai hidup di hati generasi penerus. Hari ini saya melihat estafet cahaya itu diteruskan," ujar Ary Ginanjar usai menyaksikan pementasan.



Lebih lanjut, "Selamat anak-anakku. Selamat Generasi Emasku. Kelak ini akan membekas sebagai bekal hidupmu menjalani kehidupan dengan kepercayaan diri yang kuat berlandaskan taqwa kepada Allah SWT Sang Maha Cahaya."

"Dan Semoga Milad ESQ ke-26 ini bukan hanya menjadi perayaan usia. Tetapi menjadi momentum lahirnya generasi penerus yang akan melanjutkan cahaya nilai, integritas, dan pengabdian untuk Indonesia dan dunia. Dirgahayu ESQ ke-26," harapnya.



Ahmad Fuadi, selaku penulis novel, turut hadir dan memberikan pandangannya. Menurut Fuadi, kisah hidup Ary Ginanjar memiliki keunikan karena menawarkan formula spiritual dalam menghadapi krisis.

"Semua orang pasti mengalami krisis, tapi yang berbeda Pak Ary menemukan cara menjinakkan topan badai tersebut. Ketika sampai pada satu titik, tidak ada yang bisa membantu selain cahaya dari sumber cahaya terbesar, Sang Maha Cahaya," ungkap Ahmad Fuadi.

Ia katakan, "Ada yang suka baca novel biografi? Menurut saya, kemewahan menulis atau membaca buku genre ini adalah bisa menyelami titik terendah hidup tokoh itu dan bagaimana dia bangkit. Jadi seperti punya mentor kehidupan. 

Dari sana saya belajar bagaimana orang bisa melayari badai hidup, menemukan jati diri dan selamat sampai ke tepian.

Sejauh ini sudah ada 4 tokoh yang saya tulis kisah hidupnya: Hamka, Lafran Pane, Nurhayati Subakat dan Ary Ginanjar.

Khusus untuk kisah Pak Ary, saya wawancarai beliau intensif hampir setahun, belajar banyak selama prosesnya, sampai kemudian terbitlah buku Hamba Sang Maha Cahaya 3 tahun lalu. Kini buku ini diangkat jadi pertunjukan teater."

Diketahui, Pementasan ini dirancang tidak hanya sebagai tontonan komersial, melainkan sebuah gerakan budaya berbasis konsep take & give.

Selain menyajikan proses kreatif yang penuh liku, pagelaran ini menjadi ruang bagi para mahasiswa untuk mengekspresikan rasa syukur dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru, orang tua, serta donatur/orang tua asuh yang telah menyokong pendidikan mereka di UAG University—institusi yang dikenal sebagai University of Life.

Suksesnya acara ini tidak lepas dari dukungan penuh PT Jakarta Propertindo (Perseroda) sebagai pengelola kawasan Taman Ismail Marzuki. 

Sinergi ini menegaskan komitmen BUMD DKI Jakarta dalam mengoptimalisasi aset-aset publik agar berdaya guna secara produktif, sekaligus berfungsi sebagai pusat pembelajaran nilai dan pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

Melalui momentum Milad ke-26 ini, ESQ menegaskan kembali komitmennya untuk terus melahirkan agen perubahan yang berlandaskan 7 Budi Utama (Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerja Sama, Adil, dan Peduli). 

Langkah kecil dari panggung Teater Tepi Waktu ini menjadi manifestasi nyata dari komitmen generasi muda bertalenta untuk ikut mengawal visi besar peradaban bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dan cita-cita luhur Indonesia Atap Dunia.

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA