Rabu, H / 22 April 2026

Hari Kartini: Rektor UAG University Ingatkan Perempuan Kuasai IQ, EQ, dan SQ Agar Tak Dikendalikan AI

Selasa 21 Apr 2026 20:58 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA - Di tengah perayaan Hari Kartini, Rektor Universitas Ary Ginanjar (UAG University), Dyah Utami Aryanti hadir dalam simposium bertajuk Bridging Minds and Machines: The Synergy of AI and Psychology for High Performing Talents bukan hanya sebagai simbol pemimpin perempuan. Tetapi juga sebagai suara yang mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tanpa pemahaman manusia bisa berbalik menjadi ancaman.


Dyah menegaskan, kecerdasan buatan yang berkembang begitu pesat tidak boleh melaju tanpa kendali nilai, empati, dan kesadaran moral.


"Kita tidak bisa berdiri sendiri dengan teknologi saja. Kalau sesuatu masuk ke kehidupan kita tanpa kita sadari batas-batasnya, kita tidak akan tahu arah kita akhirnya ke mana," ujar Dyah di Auditorium Universitas Ary Ginanjar, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.


Menurutnya, teknologi yang digunakan tanpa landasan psikologi dan integritas justru berpotensi membawa kemunduran, bukan kemajuan.


Sebaliknya, ketika seseorang memahami emosi, empati, dan tujuan hidupnya, teknologi akan menjadi alat yang benar-benar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.


UAG University pun kini tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual mahasiswanya. Rektor UAG University mengungkapkan, UAG University secara aktif mengajarkan tiga dimensi kecerdasan sekaligus, yaitu intelektual, emosional, dan moral. Baginya, inilah pemikiran yang benar-benar menatap masa depan.


"Kalau kita masih berkutat pada IQ saja, kita ketinggalan. Talent terbaik itu bukan hanya yang pintar, tapi yang hidupnya memberi manfaat buat sekitar," tegas Dyah.


Bertepatan dengan Hari Kartini, Rektor UAG University mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk benar-benar meresapi makna di balik peringatan ini, bukan sekadar mengenakan kebaya, tetapi mewarisi keberanian berpikir melampaui zamannya.


Dyah menggambarkan Kartini bukan hanya sebagai pahlawan perempuan, tetapi sebagai pemikir visioner yang hidup jauh melampaui norma di masanya.


Di era di mana perempuan dilarang mengenyam pendidikan, Kartini justru bermimpi dan berjuang agar perempuan lain bisa merasakan hal yang sama.


"Kartini itu orang yang bisa dibilang punya privilege. Tapi dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia terus bertanya “bagaimana nasib perempuan yang lain? Bagaimana kalau saya seperti mereka?" kata Dyah.


Sebagai pemimpin perempuan di institusi pendidikan tinggi di Indonesia, Rektor UAG University menutup percakapan dengan pesan yang tajam dan penuh harapan.


Ia mendorong seluruh perempuan Indonesia untuk terus mengasah diri, bukan hanya dari sisi kompetensi dan pendidikan, tetapi juga dari sisi moralitas dan kepedulian sosial.


Sebab menurutnya, kemampuan tanpa integritas tidak akan melahirkan dampak yang bertahan lama.


"Kalau perempuan hanya meningkatkan kemampuan tapi tidak moralitasnya, dampaknya tidak akan sustainable. Dan kalau dia pintar tapi tidak peduli sekitar, untuk apa? Kartini tidak pernah berhenti di dirinya sendiri. Dan itulah yang harus kita teladani," pungkas Dyah.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA