Sabtu, H / 17 April 2021

Pulau Sangiang, Menyimpan Pesona Juga Kisah (3)

Sabtu 31 Aug 2019 06:27 WIB

Author :Muhammad Zaidan Feikar

Karya Seni Berupa 'Lukisan' Sang Maha Pencipta, yang Memanjakan Mata Khalayak

Foto: Muhammad Zaidan Feikar

Menyimpan Kisah

Menurut cerita setempat, pulau ini dihibahkan oleh Raja Lampung pada warga untuk ditempati, sehingga menjadi tanah adat masyarakat yang diwariskan turun-temurun sejak zaman Kesultanan Banten dan merupakan ahli waris dari Pulau Sangiang itu sendiri. Hal itu dibuktikan dengan adanya surat warisan dari Kerajaan Lampung kepada masyarakat Desa Cikoneng.



Berdasarkan informasi dari beberapa orang tokoh masyarakat, salah satunya Pian (50 th) mengatakan bahwa pada tahun 90 an terjadi konflik antara masyarakat Pulau Sangiang dengan sebuah perusahaan bidang kepariwisataan. Mereka datang dan memiliki HGB (Hak Guna Bangunan) di pulau tersebut, yang entah berasal dari mana. Masyarakat merasa bahwa ada oknum yang menjual tanah tanpa sepengetahuan warga. Perusahaan merasa telah membeli namun masyarakat tidak pernah merasa menjual, sehingga masyarakat menjadi pihak yang dirugikan.



Sekitar tahun 2000 an, masyarakat dikejutkan dengan munculnya hama Babi yang datang secara tiba tiba, padahal sebelumnya tidak pernah dijumpai di pulau tersebut. Hama tersebut merusak lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat, dan hanya menyisakan tanaman berkayu keras seperti Kelapa dan Melinjo sehingga masyarakat hanya bergantung dengan bertani Kelapa untuk dijual ke Anyer.



Masyarakat merasa bahwa ada suatu kekuatan dari pihak tertentu yang mengganggu keberadaan mereka di Pulau Sangiang. Buntut dari permasalahan tersebut adalah perekonomian masyarakat terhambat, serta masyarakat tidak dapat dengan leluasa mendirikan bangunan.

Pulau Sangiang bukanlah pulau dengan fasilitas yang sudah lengkap. Keadaan di sana masih serba sulit seperti listrik yang hanya mengandalkan genset dan menyala 4 jam/hari (dari jam 6 sore sampai jam 10 malam), bangunan yang belum memadai, keterbatasan sinyal dan air bersih, tidak adanya fasilitas pendidikan dan kesehatan, akses yang sulit dan belum adanya jalur evakuasi yang layak. Untuk mendapatkan kebutuhan pokok pun masyarakat harus menyebrang ke Anyer terlebih dahulu.



[1]   [2]   [3]   [4]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA