Minggu, H / 01 Maret 2026

Proses yang Membentuk

Rabu 21 Jan 2026 09:29 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku pernah berdiri di ruang rapat dengan dada berdebar dan rahang mengeras. Target tak tercapai, grafik menurun, dan sebagai atasan, semua mata tertuju padaku. Suaraku meninggi, bukan karena benci, tapi karena takut. Takut gagal. Takut dianggap tak layak memimpin. Aku menegur timku dengan kata-kata yang tajam, rapi, dan terlihat profesional, namun diam-diam menyisakan luka.


Aku melihat wajah-wajah mereka tertunduk. Tak ada perlawanan. Tak ada bantahan. Hanya keheningan yang menekan dada. Saat itu, aku merasa menang. Tegas. Berwibawa. Namun ketika ruang rapat kosong dan pintu tertutup, ada kekosongan lain yang menyergap. Mengapa hati ini justru terasa kalah?


Malam itu aku pulang lebih larut. Aku membuka kembali catatan target, email, dan pesan-pesan yang terlewat. Di antara angka dan jadwal, aku menemukan diriku sendiri, lelah, ambisius, dan lupa bahwa manusia bukan sekadar mesin capaian. Aku menangis pelan. Bukan karena timku, tapi karena menyadari, aku menuntut mereka mengendalikan emosi, sementara aku gagal mengendalikan milikku.


Keesokan harinya, aku datang dengan langkah berbeda. Aku mengajak mereka duduk, mendengar tanpa memotong, mengakui bahwa caraku kemarin menyakitkan. Tak ada yang resign. Tak ada drama. Yang ada justru kelegaan, di mataku dan mata mereka. Di sanalah aku belajar, kepemimpinan bukan tentang siapa paling benar, tapi siapa paling berani bertumbuh.


Proses itu pahit. Kontroversial. Menguji ego. Namun justru di situlah aku ditempa. Aku belajar bahwa tekanan bisa membentuk berlian, jika kita mau dipoles, bukan meledak.


Emosi yang dikelola melahirkan kebijaksanaan. Kekuasaan tanpa empati hanya akan meninggalkan jarak.


Mari kita belajar bersama. Kita tak harus sempurna hari ini, tapi kita bisa memilih untuk lebih sadar esok hari, mendengar, merangkul, dan bertumbuh.


“Bukan pengalaman yang membuat kita bijaksana, tetapi refleksi atas pengalaman itulah yang membentuk kita.”

— John Dewey


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA