ESQNews.id, JAKARTA - Pernah tidak kita merasa seolah berjalan di tempat? Pikiran buntu, hati terasa berat, dan semangat perlahan redup. Di momen seperti ini, sering kali yang kita butuhkan bukanlah Jawaban dari orang lain, melainkan keberanian untuk bertanya pada díri sendiri melalui kacamata Coaching.
Dalam keseharian, kita sering terjebak dalam 3 permasalahan utama ini:
1. Kita merasa kewalahan dengan beban ekspektasi dunia. Solusinya, mari kita petakan mana hal yang bisa kita kendalikan dan mana yang merupakan wilayah Allah. Fokuslah pada ikhtiar kita, bukan pada penilaian manusia.
2. Kita merasa takut melangkah karena bayang-bayang kegagalan masa lalu. Solusinya, mari kita ubah sudut pandang: kegagalan bukan akhir, melainkan 'feedback' dari Allah agar kita memperbaiki strategi dan kualitas diri.
3. Kita kehilangan makna di tengah rutinitas yang menjenuhkan. Solusinya, kita perlu melakukan 're-alignment' atau penyelarasan kembali niat. Pastikan setiap lelah kita bernilai 'Lillah' agar hati kembali tenang.
Saat kita merasa stuck, mari kita ajukan 5 pertanyaan coaching ini ke dalam lubuk hati:
1. Apa sebenarnya hal terpenting yang ingin kita capai saat ini?
2. Kekuatan apa yang pernah Allah titipkan pada kita untuk melewati tantangan serupa di masa lalu?
3. Jika Allah memberikan jalan keluar hari ini, langkah kecil apa yang sanggup kita ambil sekarang?
4. Apa hikmah atau pelajaran yang sedang Allah coba sampaikan melalui rasa stuck ini?
5. Bagaimana versi terbaik diri kita akan bertindak dalam situasi seperti ini?
Ingatlah, Allah tidak membebani kita melainkan sesuai kesanggupan kita. Mari kita terus bergerak dengan penuh keyakinan.