Minggu, H / 01 Maret 2026

Menjadi Versi yang Lebih Jujur

Minggu 25 Jan 2026 09:41 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku pernah yakin, sebagai atasan aku harus selalu benar. Suaraku harus tegas, keputusan harus cepat, dan emosi menurutku adalah kelemahan yang tidak boleh terlihat. Di ruang rapat itu, aku berdiri dengan dada membusung, menyampaikan evaluasi tim dengan nada dingin. Aku melihat wajah-wajah yang tertunduk. Hening. Tegang. Tidak ada bantahan. Aku mengira itu tanda hormat.


Ternyata, itu tanda lelah.


Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi ada yang berubah. Target tercapai, namun semangat menghilang.


Candaan menipis. Diskusi menjadi formal. Aku mulai jengkel, lalu marah pada diriku sendiri karena tak tahu harus menyalahkan siapa. Aku merasa sendirian di puncak, padahal akulah yang menciptakan jarak itu.


Suatu malam, aku duduk lama di ruang kerja. Aku bertanya jujur pada diri sendiri, apakah aku memimpin dengan hati, atau hanya dengan ego? Pertanyaan itu menyesakkan.


Menyakitkan. Tapi di situlah kejujuran mulai bekerja.


Aku sadar, konflik ini bukan tentang tim yang tidak loyal. Ini tentang aku yang belum jujur mengakui luka, takut, dan tekanan yang kupendam. Aku menuntut mereka terbuka, sementara aku sendiri bersembunyi di balik jabatan.


Keesokan harinya, aku masuk ruang rapat dengan langkah berbeda. Aku tidak meminta mereka berubah. Aku mengubah caraku hadir. Aku lebih banyak mendengar, lebih pelan bicara, dan mengakui bahwa aku pun sedang belajar.


Tidak ada perlawanan. Tidak ada resign. Yang ada hanyalah napas lega, pelan, tapi nyata.


Aku belajar, menjadi pemimpin bukan soal tampil paling kuat, tetapi berani menjadi versi diri yang lebih jujur. Dan kejujuran, meski awalnya menyakitkan, selalu berujung pada kedamaian.


Kejujuran pada diri sendiri adalah titik awal kepemimpinan yang sehat. Ego yang diturunkan memberi ruang bagi kepercayaan untuk tumbuh.


Mari kita, sebagai manusia yang memimpin dan dipimpin, berani jujur. Kita belajar menata ego, membuka hati, dan melihat konflik sebagai jalan pembentukan diri.


“Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan.”

— Thomas Jefferson


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA