ESQNews.id, JAKARTA - Libur panjang seharusnya membawa suasana ringan. Namun pagi itu, aku justru memulai hari dengan emosi yang tidak biasa.
Beberapa pekerjaan belum selesai. Laporan tertunda. Sementara sebagian tim sudah mulai mengambil cuti lebih awal.
Aku memanggil mereka ke dalam rapat singkat.
"Liburan bukan alasan untuk menurunkan tanggung jawab," kataku tegas. Nada suaraku lebih tinggi dari yang aku sadari.
Ruangan langsung hening.
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menjelaskan. Mereka hanya diam, mengangguk, dan menerima.
Saat itu aku merasa benar.
Namun setelah rapat selesai, aku melihat mereka kembali ke meja masing-masing dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Ada lelah, ada kecewa, tetapi tetap mereka lanjut bekerja.
Sore harinya, aku melihat salah satu dari mereka masih duduk di depan komputer. Aku tahu ia seharusnya sudah pulang untuk bersiap mudik.
"Kenapa masih di sini?" tanyaku.
la tersenyum kecil, "Aku ingin menyelesaikan ini dulu, Pak, supaya besok bisa tenang bersama keluarga."
Jawaban sederhana itu menampar hatiku.
Aku terdiam.
Di tengah keinginanku menjaga profesionalitas, aku lupa bahwa mereka juga manusia, punya keluarga, punya rindu, dan punya kebutuhan untuk beristirahat.
Malamnya, aku merenung cukup lama.
Aku bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku sedang menjaga kualitas kerja, atau justru melukai hati tanpa sadar?"
Aku sadar, menjaga kinerja penting. Tetapi menjaga hati jauh lebih penting.
Keesokan harinya, aku datang dengan sikap berbeda. Aku menyapa mereka dengan lebih hangat, memberi ruang, dan menyampaikan apresiasi.
Tidak ada perubahan besar secara instan. Tetapi suasana menjadi lebih ringan.
Dan aku belajar, bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjaga hati, terutama di momen-momen yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Menjaga hati orang lain adalah bagian dari tanggung jawab kita, bahkan ketika kita sedang mengejar target.
