ESQNews.id, MAJALENGKA — Kecamatan Kertajati saat ini tengah berada dalam pusaran arus perubahan tata ruang yang signifikan di Kabupaten Majalengka.
Wilayah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai basis pertanian produktif, kini sedang menjalani proses transisi fundamental.
Keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) menjadi faktor determinan yang mengubah fungsi kawasan ini dari sekadar area pedesaan menjadi zona strategis nasional yang diperhitungkan.
Dalam cetak biru perencanaan wilayah, Kertajati tidak lagi didesain semata sebagai penyangga pangan, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis aviasi.
Konsep Aerocity atau kota bandara yang mengelilingi BIJB menuntut adanya ketersediaan lahan yang ekstensif untuk berbagai fasilitas penunjang.
Hal inilah yang mendasari mengapa penyesuaian fungsi lahan terjadi di berbagai titik strategis kecamatan ini.
Secara fungsional, pengembangan kawasan industri di sekitar bandara bukanlah sebuah kebetulan, melainkan kebutuhan operasional yang esensial.
Agar bisnis kargo udara di BIJB dapat berjalan optimal, diperlukan ekosistem industri manufaktur dan pusat logistik yang berlokasi berdekatan.
Simbiosis ini bertujuan untuk menekan biaya distribusi, sehingga barang hasil produksi dapat langsung diterbangkan ke berbagai tujuan dengan efisiensi tinggi.
Progres di lapangan kini menunjukkan aktivitas yang mulai berjalan. Beberapa unit pabrik manufaktur telah merampungkan proses konstruksi dan mulai menjalankan tahapan operasional awal.
Aktivitas ini dibarengi dengan pembukaan lowongan pekerjaan yang mulai menyerap tenaga kerja lokal secara bertahap. Di sisi lain, proses pembebasan lahan untuk kebutuhan ekspansi kawasan industri juga masih terus bergulir di beberapa lokasi.
Proyeksi jangka panjang pemerintah menempatkan Kertajati sebagai jantung dari kawasan Metropolitan Rebana.
Wilayah ini dipersiapkan menjadi motor penggerak industri utama di Jawa Barat bagian timur, menampung relokasi pabrik dari kawasan industri lama.
Target ini membawa konsekuensi logis berupa perubahan bentang alam yang bersifat permanen di wilayah utara Majalengka.
Konsekuensi dari pengembangan wilayah ini berpengaruh pada lanskap agraris. Area persawahan yang menjadi identitas wilayah, kini mulai berbagi ruang dengan infrastruktur industri yang tumbuh di sekitarnya.
Meskipun aktivitas pertanian warga masih tetap berjalan, namun secara proporsi, dinamika alih fungsi lahan untuk kebutuhan kawasan *Aerocity* terus berlangsung seiring dengan tahapan pembangunan yang direncanakan.
Pergeseran fisik tersebut lantas memicu perubahan struktur sosial dan ketenagakerjaan masyarakat setempat. Dengan mulai beroperasinya pabrik-pabrik baru, generasi muda di Kertajati kini memiliki opsi karir yang berbeda.
Mereka lebih condong membidik peluang kerja di sektor formal industri yang menawarkan kepastian pendapatan bulanan. Profesi sebagai tenaga kerja pabrik atau staf logistik kini dianggap lebih relevan dibandingkan sektor agraris.
Fenomena ini menjadi penanda jelas bahwa Kertajati sedang bergegas menyesuaikan diri dengan takdir barunya.
Transformasi dari kultur agraris menuju masyarakat industri adalah sebuah keniscayaan dari penetapan wilayah ini sebagai gerbang udara provinsi.
Meskipun proses ini membawa dinamika tersendiri di masyarakat, arah perubahan menuju kawasan industri modern sudah tergambar di depan mata. [infomjlk]


