ESQNews.id, MAJALENGKA — Menyandang status sebagai bandara terbesar kedua di Indonesia, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati menyimpan realita yang cukup unik.
Di satu sisi, area terminal penumpang masih terasa lengang karena aktivitas penerbangan komersial yang belum terlalu padat setiap harinya.
Namun, kesunyian di dalam gedung terminal justru berbanding terbalik dengan suasana di kawasan sekitar bandara yang selalu diwarnai oleh aktivitas warga lokal.
Infrastruktur jalan akses menuju bandara yang dibangun sangat lebar dengan kualitas aspal kelas dunia, secara alami menarik perhatian warga untuk memanfaatkannya.
Melihat hamparan jalanan mulus yang volume kendaraannya masih terbilang jarang, warga sekitar spontan menjadikan area ini sebagai ruang publik serbaguna.
Tanpa perlu berpikir panjang, mereka melihat kawasan sepi ini sebagai lokasi yang sangat potensial dan aman untuk melakukan beragam aktivitas harian.
Salah satu pemandangan yang paling lumrah dijumpai di jalur ini adalah aktivitas latihan mengemudi.
Kawasan ini seolah menjadi lokasi favorit bagi mereka yang ingin melancarkan kemampuan berkendara.
Selalu ada saja satu atau dua mobil pribadi yang melaju pelan di jalur akses tersebut dengan pengemudi yang tampak berhati-hati.
Warga merasa jauh lebih tenang belajar menyetir di sini karena jalurnya yang mulus, lebar, dan minim gangguan kendaraan lain dibandingkan harus belajar di jalan raya umum.
Selain aktivitas berkendara, lingkungan sekitar bandara yang sangat luas ini juga dimanfaatkan sebagai sarana olahraga gratis yang ideal.
Dukungan tata ruang dan lapang yang terbuka membuat berbagai kalangan warga, baik pesepeda maupun pelari, dapat leluasa menemukan ruang gerak yang nyaman untuk beraktivitas.
Hal ini didukung pula dengan kondisi udara yang segar di pagi hari maupun teduh di sore hari, sehingga olahraga di kawasan bandara internasional ini terasa jauh lebih menyenangkan karena minimnya polusi asap kendaraan.
Puncak dari keunikan fenomena ini adalah tradisi botram atau makan bersama yang kerap dilakukan warga di area taman sekitar bandara.
Tanpa rasa canggung, rombongan keluarga sering terlihat menggelar tikar dan membuka rantang bekal mereka di trotoar atau area rumput yang tertata rapi.
Dengan latar belakang gedung terminal yang arsitekturnya tampak modern dan sangat megah, warga menikmati piknik murah meriah seolah sedang berlibur di destinasi wisata mahal.
Pemandangan ini menjadi potret ironi sekaligus hiburan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.
Di saat pemerintah dan pengelola terus berupaya meramaikan jadwal penerbangan yang masih landai, warga lokal justru telah lebih dulu meramaikan Kertajati dengan cara mereka sendiri.
Fasilitas triliunan rupiah yang belum sibuk melayani penumpang pesawat itu, untuk sementara waktu, menjadi ruang publik raksasa yang memberikan kebahagiaan sederhana bagi masyarakat Majalengka. [infomjlk]


