Minggu, H / 01 Maret 2026

Menata Kembali Tujuan

Kamis 29 Jan 2026 09:54 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Pagi itu aku memasuki ruang rapat dengan dada penuh bara. Target kuartal meleset, laporan berantakan, dan wajah timku terlihat letih. Tanpa banyak jeda, suaraku meninggi. Aku bicara tentang tanggung jawab, komitmen, dan standar kerja. Kata-kataku tajam, seolah ketegasan adalah satu-satunya cara menyelamatkan keadaan.


Ruangan hening. Tidak ada perlawanan. Tidak ada bantahan. Hanya tatapan yang turun perlahan, dan napas yang terasa berat. Entah kenapa, kemenangan kecil itu justru terasa menyesakkan. Di tengah keheningan, aku melihat satu anggota tim menutup buku catatannya dengan hati-hati, seakan takut suara kecil itu pun akan menyinggungku. Saat itulah sesuatu di dalam diriku runtuh.


Aku teringat diriku di masa lalu, seorang bawahan yang pernah merasa tidak didengar. Aku dulu berjanji, jika menjadi pemimpin, aku tidak akan memimpin dengan rasa takut. Namun pagi itu, aku menjadi versi yang dulu ingin kuhindari.


Rapat selesai tanpa tepuk tangan, tanpa senyum. Mereka kembali ke meja masing-masing, tetap bekerja, tetap patuh. Tidak ada yang melawan. Tidak ada yang mengundurkan diri. Tapi justru kepatuhan itulah yang menyadarkanku, jangan-jangan aku sedang kehilangan hati mereka, bukan hanya angka target.


Siang itu aku duduk sendiri, menata napas, menata ulang tujuan. Apakah aku ingin dihormati, atau hanya ditakuti? Apakah target lebih penting daripada manusia yang berjuang mencapainya? Dalam diam, aku belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang mengontrol orang lain, melainkan mengelola ego sendiri.


Terkadang konflik terbesar bukan antara atasan dan tim, tetapi antara harapan dan kesadaran diri. Memimpin berarti berani bercermin sebelum menunjuk.


Mari kita belajar menata kembali tujuan. Kita boleh tegas, tetapi tetap utuh sebagai manusia. Kita bisa mengejar hasil tanpa kehilangan empati. Karena saat kita membenahi niat, cara kita memimpin pun berubah menjadi lebih bermakna.


Pada akhirnya, aku sadar, setiap kejadian selalu membawa hikmah untuk membentukku menjadi pribadi yang lebih bijak.


"Siapa yang menaklukkan dirinya sendiri adalah pemenang terbesar."

— Plato


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA