Minggu, H / 01 Maret 2026

Memilih Diri Tanpa Ego

Sabtu 24 Jan 2026 09:38 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku ingat jelas hari itu. Ruang rapat terasa pengap, bukan karena AC mati, tapi karena kata-kataku sendiri. Nada suaraku meninggi, kalimatku tajam, dan mataku menuntut kesempurnaan. Di hadapanku, timku diam. Tidak ada perlawanan. Tidak ada bantahan. Justru itu yang membuat dadaku semakin sesak.


Aku marah. Kecewa. Jengkel. Target tak tercapai, laporan tak rapi, dan ekspektasiku runtuh satu per satu. Dalam benakku, aku merasa benar. Aku atasan. Aku bertanggung jawab. Tapi di balik semua pembenaran itu, ada satu hal yang pelan-pelan menghantam kesadaranku, aku sedang dikuasai ego.


Hari-hari setelahnya terasa hampa. Mereka tetap bekerja. Tetap patuh. Tetap profesional. Namun ada jarak yang tak terlihat, dingin dan sunyi. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya memimpin jika yang tumbuh justru ketakutan, bukan kepercayaan?”


Malam itu, dalam doa yang panjang, aku tersadar. Memilih diri bukan berarti membenarkan ego. Memilih diri adalah keberanian untuk mengakui luka batin, ketakutan gagal, dan ambisi yang berlebihan. Aku terlalu sibuk menjadi benar, sampai lupa menjadi manusia.


Aku tak menyalahkan timku. Aku tak menyalahkan keadaan. Aku memilih diam, bukan untuk menghindar, tapi untuk mendengar. Mendengar hatiku sendiri yang lelah berpura-pura kuat. Dari sana, aku belajar bahwa kepemimpinan bukan soal suara paling keras, tapi hati yang paling jujur.


Ego yang dibiarkan tumbuh akan memisahkan, bukan menguatkan. Ketika kita berani menurunkan ego, kita justru naik sebagai manusia yang utuh.


Mari kita belajar memilih diri tanpa ego. Kita belajar memimpin dengan kesadaran, bekerja dengan empati, dan bertumbuh tanpa harus melukai.


Aku kini percaya, setiap konflik adalah cermin. Jika kita mau bercermin, selalu ada hikmah yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.


“Orang yang paling kuat bukanlah dia yang menang atas orang lain, melainkan dia yang mampu menaklukkan egonya sendiri.”

— Nelson Mandela


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA