Minggu, H / 01 Maret 2026

Jalan Hidup yang Disadari

Rabu 14 Jan 2026 08:29 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku adalah atasan mereka. Setidaknya, itu yang tertulis di struktur organisasi. Setiap pagi aku berdiri di depan tim dengan dada tegak, membawa target, deadline, dan ekspektasi. Aku bicara tentang kinerja, disiplin, dan komitmen, tapi sering lupa bertanya, apa kabar hatimu hari ini?


Hari itu konflik meledak.


Bukan teriakan, bukan bantingan meja. Justru sunyi yang paling menyakitkan. Tatapan mata mereka kosong. Laporan selesai, tugas dijalankan, tidak ada perlawanan. Tidak ada yang resign. Semuanya berjalan “normal”. Tapi aku tahu, ada yang mati perlahan di ruangan itu, kepercayaan.


Aku marah.


Bukan pada mereka, tapi pada hasil yang tak sesuai harapanku. Aku jengkel karena merasa tidak didukung. Aku merasa sendirian memikul tanggung jawab besar. Dalam emosiku, aku lupa satu hal, aku juga manusia, dan mereka pun manusia.


Malamnya aku terdiam lama.


Aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku memimpin dengan hati, atau hanya dengan jabatan?”


Di situlah aku tersadar. Selama ini aku menuntut mereka bertumbuh, tapi aku sendiri berhenti bertumbuh. Aku meminta mereka memahami tekanan, tapi aku tak pernah benar-benar mendengarkan.


Aku menangis dalam doa.


Bukan karena mereka, tapi karena egoku. Aku sadar, konflik ini bukan tentang siapa yang benar atau salah. Ini tentang jalan hidup yang sedang mengajariku untuk melambat, merendah, dan belajar ulang menjadi manusia sebelum menjadi pemimpin.


Keesokan harinya, aku datang dengan wajah yang sama, tapi hati yang berbeda. Aku mulai mendengar. Aku mulai bertanya. Aku mulai belajar diam. Dan anehnya, di situ justru aku menemukan kekuatan.


Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tapi siapa yang paling berani bercermin.


Mari kita belajar memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Karena setiap konflik selalu membawa pesan untuk menjadikan kita pribadi yang lebih utuh.


"Orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri adalah pejuang yang paling kuat.”

— Konfusius


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA