Minggu, H / 01 Maret 2026

Bertanya Tanpa Menghakimi

Kamis 15 Jan 2026 08:33 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku adalah atasan mereka. Setiap keputusan ada di tanganku, setiap target bermuara padaku. Aku terbiasa bicara cepat, memberi arahan tegas, dan menuntut hasil. Aku percaya ketegasan adalah bentuk kepedulian. Sampai suatu hari, ruang kerjaku terasa dingin, bukan karena AC, tapi karena jarak yang tak kasat mata.


Konflik itu tidak pernah diumumkan.


Tidak ada suara tinggi, tidak ada bantahan. Timku tetap bekerja rapi, laporan tepat waktu, senyum sopan terjaga. Tapi aku merasakannya: ada emosi yang tertahan, ada marah yang disimpan, ada lelah yang tak diucapkan. Aku jengkel. Aku merasa tidak dihargai. Aku marah karena hasil tak seindah upaya. Tegang, sunyi, dan menyiksa.


Aku menekan mereka lebih keras.


Kupikir disiplin akan menyelesaikan segalanya. Nyatanya, aku justru semakin jauh. Di satu malam yang sepi, aku bertanya pada diriku sendiri, “Kapan terakhir kali aku benar-benar bertanya tanpa menghakimi?” Pertanyaan itu menghantamku lebih keras dari kritik mana pun.


Aku sadar, selama ini aku bertanya untuk mencari kesalahan, bukan memahami. Aku mendengar untuk menjawab, bukan untuk hadir. Aku lupa, jabatan tidak memberiku hak untuk menghakimi hati orang lain. Di situlah air mataku jatuh, bukan karena timku, tapi karena egoku sendiri.


Keesokan harinya, aku duduk bersama mereka. Aku tidak mengoreksi, tidak membela diri. Aku hanya bertanya, pelan dan jujur. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar mendengar. Tidak ada perlawanan. Tidak ada yang resign. Yang ada hanyalah kelegaan dan kepercayaan yang mulai kembali.


Aku belajar, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau belajar. Setiap konflik adalah cermin. Dan Tuhan sering berbicara melalui ketidaknyamanan.


Bertanya tanpa menghakimi membuka pintu kepercayaan yang selama ini tertutup oleh ego.


Mari kita belajar bertanya dengan hati, bukan dengan prasangka. Karena saat kita berhenti menghakimi, kita mulai memanusiakan.


"Kelemahan terbesar manusia adalah ilusi bahwa ia selalu benar.”

— Socrates


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA