ESQNews.id, JAKARTA – Dalam upaya merespons tantangan zaman yang kian kompleks, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus melakukan langkah strategis untuk mencetak personel yang unggul dan berintegritas.
Hal ini mengemuka dalam pertemuan silaturahmi antara Wakapolri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., dengan Founder ESQ, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, di Mabes Polri, 28 April 2026.
Audiensi tersebut menjadi ruang diskusi mendalam mengenai peta jalan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Polri masa depan.

Wakapolri menekankan perlunya perubahan fundamental, mulai dari sistem rekrutmen hingga lembaga pendidikan, guna melahirkan insan Bhayangkara yang tidak hanya kompeten secara teknis, namun memiliki kekuatan spiritual dan motivasi intrinsik.
Menindaklanjuti pemaparan dari tim ESQ, Wakapolri menginstruksikan tiga agenda utama yang akan segera diimplementasikan:
1. Integrasi TalentDNA pada Seleksi Akpol: Penggunaan alat ukur TalentDNA dari ESQ akan diajukan dalam proses seleksi taruna Akpol di Semarang untuk memetakan potensi genetika perilaku calon perwira sejak dini.
2. Assessment Pati Lemdikpol: Melakukan penilaian terhadap Perwira Tinggi (Pati) di lingkungan Lemdikpol, khususnya bagi lulusan Akpol angkatan (Leting) 1992-1996. Langkah ini bertujuan menyiapkan kader pemimpin Polri (calon Kapolri dan Wakapolri) untuk 2-3 tahun ke depan.
3. Reformasi Lembaga Pendidikan: Melakukan perombakan besar pada kurikulum dan ekosistem pendidikan kepolisian yang menjadi hulu pembentukan karakter anggota.
Dalam diskusi tersebut, Komjen Pol. Dedi Prasetyo secara jujur memaparkan sejumlah tantangan di lapangan.
"Proses seleksi kita sebenarnya sudah bagus, namun tantangan muncul ketika personel memasuki lingkungan kerja.
Potensi mereka terkadang tidak keluar secara optimal. Selain itu, masa pendidikan yang singkat, yakni 5 bulan dari sebelumnya 11 bulan, menuntut adanya 'kompetensi pembuka' yang efektif untuk membangun mindset," ujar Wakapolri.
Beliau juga menyoroti kondisi di lembaga pendidikan, di mana beban kegiatan malam sering kali membuat siswa tidak optimal saat jam pelajaran akademik.
Salah satu poin krusial yang ditekanan Wakapolri adalah deteksi "embrio" manusia yang bertakwa sejak tahap rekrutmen.
Polri berkomitmen mengembangkan sistem rekrutmen berbasis nilai (values-based recruitment) untuk mencari personel yang bekerja atas panggilan jiwa, bukan sekadar dorongan eksterinsik.
"Kita butuh tools yang mampu mendeteksi motivasi intrinsik. Polri masa depan harus diisi oleh mereka yang memiliki iman dan takwa yang kuat," tegasnya.
Lebih lanjut, Wakapolri meminta bantuan ESQ untuk menyusun modul yang mencakup tiga pilar utama: Perubahan Kurikulum yang lebih adaptif, Pusat Studi Kepolisian untuk memperkuat basis riset, Laboratorium Sosial agar tindakan kepolisian didasarkan pada kajian ilmiah, bukan sekadar pengalaman lapangan.
Uniknya, transformasi ini juga direncanakan menyentuh ranah keluarga. Pelatihan rencananya tidak hanya diberikan kepada anggota Polri, tetapi juga kepada para istri agar terjadi keselarasan pemahaman dalam mendukung tugas suami.
Sebagai langkah konkret, Wakapolri meminta tim ESQ menyusun kajian akademik terkait rekrutmen instruktur, gadik, dan pengasuh sebagai pijakan reformasi.
Data ini dijadwalkan akan diserahkan pada pertengahan Mei 2026 sebagai basis pengambilan kebijakan strategis.
Dengan dukungan 77 nota kesepahaman (MoU) dengan universitas di seluruh Indonesia dan 30 Pusat Studi Kepolisian yang sudah terbentuk, Polri optimis transformasi SDM ini akan membawa Korps Bhayangkara menuju institusi yang semakin profesional, modern, dan dicintai masyarakat.