Senin, H / 13 April 2026

Saat Ego Melebur Menjadi Kolaborasi

Jumat 06 Feb 2026 10:52 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Aku ingat betul hari itu. Ruang rapat terasa lebih sempit dari biasanya. Angka target terpampang besar di layar, merah, menyala, seolah menantang egoku sebagai atasan. Dadaku panas. Aku berbicara tegas, cepat, dan dingin. Setiap kalimatku rapi, logis, dan menusuk.


Timku diam. Tak ada bantahan. Tak ada pembelaan. Hanya anggukan kecil dan catatan yang ditulis tanpa suara. Anehnya, justru itu yang membuatku marah sekaligus jengkel. Aku ingin respons, ingin perlawanan, ingin ada yang bisa kusalahkan. Namun yang kuterima hanyalah kesunyian yang menegangkan.


Sepanjang hari itu, emosiku naik turun. Aku merasa benar, tapi tak merasa tenang. Aku merasa memimpin, tapi tak merasa diikuti. Saat senja datang dan kantor mulai lengang, aku duduk sendiri.


Untuk pertama kalinya aku bertanya jujur pada diri sendiri, “Apakah aku sedang memimpin, atau sekadar mempertahankan ego?”


Malam itu aku pulang dengan hati berat. Dalam doa yang lirih, aku menyadari satu hal yang menampar kesadaranku: target memang penting, tetapi manusia lebih penting. Aku menuntut kolaborasi, namun caraku justru menutup ruang dialog. Aku ingin hasil terbaik, tapi lupa menciptakan rasa aman.


Keesokan harinya, aku mengubah cara hadir. Aku tidak menurunkan standar, tetapi aku menurunkan ego. Aku mulai mendengar, bukan sekadar menilai. Aku bertanya, bukan menghakimi.


Dan perlahan, suasana berubah. Ide mulai muncul. Senyum kecil kembali terlihat. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena kami merasa berjalan bersama.


Di sanalah aku belajar, konflik bukan selalu tentang tim yang lemah, tetapi sering tentang pemimpin yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Ketika ego melebur, kolaborasi menemukan jalannya.


Kepemimpinan sejati dimulai dari keberanian untuk bercermin. Saat ego dikelola, konflik berubah menjadi ruang belajar dan pertumbuhan bersama.


Mari kita belajar menurunkan ego tanpa menurunkan kualitas. Kita bangun kolaborasi dengan kesadaran, empati, dan niat tulus untuk bertumbuh bersama.


“Pemimpin terbaik adalah mereka yang membuat orang lain menjadi lebih baik.”

— Peter Drucker


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA