#CeritaHK
ESQNews.id, JAKARTA - Aku berdiri di ruang rapat dengan keyakinan yang kukira kokoh. Agenda sudah jelas, target ditetapkan, strategi diputuskan. Aku berbicara panjang lebar, mengalir tanpa jeda. Wajah-wajah di depanku mengangguk, mencatat, lalu diam.
Tidak ada penolakan. Tidak ada perdebatan. Namun justru itulah yang membuat dadaku mengeras. Sunyi yang rapi terasa lebih menegangkan daripada konflik terbuka.
Hari-hari berikutnya penuh emosi. Aku jengkel melihat hasil yang tidak bergerak. Aku marah pada ritme yang terasa lamban. Di balik itu, ada sedih yang tak terucap, aku memimpin, tetapi seperti sendirian. Mereka tetap bekerja, tetap patuh, tidak ada yang melawan, tidak ada yang pergi. Namun ada jarak yang tumbuh, dingin dan kaku.
Suatu malam, aku berhenti menyusun pembelaan. Aku duduk dalam hening dan bertanya pada diri sendiri, "apakah aku sudah benar-benar mendengar, atau hanya menunggu giliran bicara?'
Pertanyaan itu menampar pelan. Aku sadar, selama ini aku menuntut pemahaman tanpa memberi ruang untuk didengar. Aku mengira ketegasan adalah solusi, padahal yang kurang adalah kehadiran.
Keesokan harinya, aku mengubah cara hadir. Aku membuka rapat dengan diam. Aku mendengar lebih lama. Aku tidak menyela. Aku menahan ego.
Pelan-pelan, suara-suara muncul. Ada ragu, ada lelah, ada harap. Dadaku menghangat. Aku terharu menyadari betapa banyak hal yang terlewat karena aku terlalu sibuk mengarahkan.
Tidak ada drama. Tidak ada pengakuan besar. Namun ada perubahan kecil yang terasa nyata. Energi tim kembali bernapas. Aku pun belajar bernapas bersama mereka. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Peristiwa ini adalah cermin yang Allah hadirkan agar aku bertumbuh.
Mendengar dengan hati membuka pemahaman yang tak bisa dijangkau oleh perintah.
Mari kita, dalam peran apa pun, belajar hadir sepenuhnya. Mari kita mendengar lebih dalam agar memahami lebih luas. Karena ketika kita berubah, hubungan pun menemukan jalannya.
“Kebijaksanaan dimulai dari kemampuan mendengar.” — Stephen R. Covey