ESQNews.id, MAJALENGKA - Belakangan ini di sosial media, mulai ramai perbincangan publik mengenai praktik bisnis raksasa penerbit jurnal akademik global semacam Elsevier.
Banyak pihak menyuarakan pendapat bahwa sistem akses tersebut terlalu kapitalis dan sangat mencekik napas dunia pendidikan.
Ilmu pengetahuan yang seharusnya bisa diakses secara bebas justru dimonopoli menjadi komoditas bisnis demi meraup keuntungan sepihak bagi korporasi.
Lantas, bagaimana nasib ekosistem pendidikan di tingkat daerah seperti Majalengka di tengah polemik monopoli tersebut?
Mengingat pendanaan serta fasilitas riset di kampus lokal sering kali sangat terbatas, sedangkan selalu ada harapan besar untuk memajukan kualitas inovasi yang adaptif.
Kondisi ini memunculkan keresahan ketika sivitas akademika dituntut berinovasi, namun dipaksa membayar mahal hanya untuk membaca hasil penelitian yang sama sekali tidak memberikan royalti kepada penulis aslinya.
Selama sumber utama referensi internasional dikunci rapat di balik brankas penerbit global, pemerataan intelektual di daerah mana pun hanya akan berjalan di tempat.
Sehingga persoalan monopoli akses ini berpotensi akan terus membatasi ruang gerak intelektual sivitas akademika ke depannya. (infomjlk)