Selasa, H / 26 Mei 2026

Coaching Itu Ilmu Paradoks

Selasa 07 Apr 2026 14:02 WIB

Author :Iwan Pramana, ST, MM, PCC

Ilustrasi

Foto: Freepik

ESQNews.id, JAKARTA - Halo..! Mari kita lanjut obrolan sebelumnya. Terakhir kita ngobrol soal coaching itu ilmu modern kan ya. Sekarang kita bahas dari sisi yang lain: coaching itu ilmu paradoks.


Mengapa? Karena semakin kita mendalami coaching maka kita akan menemukan hal-hal yang 'berlawanan' dengan logika sehari-hari. Misalnya seperti beberapa paradoks berikut: 


1. Coach membantu dengan... tidak membantu


Coba deh misalnya, ada teman yang datang, atau cerita masalahnya atau menjawab pertanyaan kita tentang masalahnya; namanya kita manusia yang rajin menabung dan suka menolong, refleks pertamanya adalah ingin menolong bukan?


Bisa dengan, "Aku udah ngalamin itu,.. coba deh kamu ...". Atau.."Eh, coba kamu ke Pak X, waktu itu temenku dibantu dia soal masalah kayak gini." Dan seterusnya, dsb, dll. Intinya: Kita kasih solusi, saran, pengalaman.


Tapi di coaching? KIta justru (kalo bisa, kalo lagi presence) tidak memberi solusi. Mengapa? Karena solusi terbaik seringkali datang dari orang itu sendiri.


Kita membantunya menemukan jawabannya dengan bantuan pertanyaan, pemahaman dan empati.


Misalnya beberapa pertanyaan yang bisa digunakan, "Jadi menurut kamu apa masalah sebenernya?" "Apa kira-kira penyebabnya?" "Apa yang sudah kamu lakukan untuk mencari alternatif jalan keluar?"


"Apa yang kamu lihat secara utuh dari kejadian ini?" Dan seterusnya, dsb, dll. Kadang satu pertanyaan yang pas… lebih bernilai daripada sepuluh saran.  


2. Mempengaruhi tapi... tidak mengarahkan


Ini juga unik. Di dunia kerja, kalau kita mau mempengaruhi orang, biasanya kita kasih arahan, “Coba kamu lakukan ini…”. “Menurut saya, lebih baik ke arah ini…”. “Kalau saya jadi kamu, saya akan…”.


Intinya: kita mengarahkan. Tapi di coaching? Kita ingin percakapan itu berdampak. Kita ingin ada perubahan. Kita ingin ada kejelasan. Tapi… kita tidak mengarahkan isinya. Yang kita jaga adalah prosesnya.


Kita bantu dia melihat opsi. Kita bantu memperjelas pikirannya. Kita bantu dia melihat gambaran yang lebih utuh. Keputusan tetap di dia, bukan di kita.


Jadi kita ikuti saja alur pembicaraaan dia mau kemana, ikuti, dengan tidak memaksakan kehendak. (Psst... kalo misalnya dia kepentok tok tok tok gak bisa ngasi alternatif dan dia minta masukan, ya kasihlah, topi coachnya dilepas dulu). Jangan pelit. Hidup kan tidak sekaku itu. 


3. Melambat untuk... bergerak lebih cepat


Ini juga paradoks yang sering nggak kita sadari. Di dunia hari ini, kita dituntut untuk serba cepat. Cepat ambil keputusan. Cepat bertindak. Cepat menghasilkan.


Pokoknya kalau bisa… langsung gas! Tapi, di coaching justru kita diajak untuk… melambat. Berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat lagi situasinya. Bukan untuk jadi lambat… tapi untuk jadi lebih sadar.


Coaching membantu kita untuk melihat gambaran utuhnya. Sebenernya ini masalahnya apa sih? Yang penting itu yang mana? Saya ini lagi ngejar apa? Cara saya selama ini efektif nggak sih?


Lebih baik berhenti sebentar untuk memastikan arah, daripada lari kencang… tapi ke arah yang salah. Kalo gambaran utuhnya semua sudah di dapat, kita pasti akan bergerak lebih cepat.


Seperti dulu saya masih ingat kata Stephen Covey,"Kalo berhubungan dengan manusia, fast is slow, slow is fast."


Sebenernya masih ada beberapa lagi selain tiga hal diatas, tapi cukuplah, biar gak terlalu berat bacanya. Sampai jumpa di edisi berikutnya ya....


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA