Senin, H / 13 April 2026

Ketika Kritik Menjadi Hadiah Perbaikan

Sabtu 07 Feb 2026 10:49 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK

ESQNews.id, JAKARTA - Aku terbiasa memberi arahan, bukan menerima masukan.

Sebagai atasan, aku percaya ketegasan adalah kunci. Target harus tercapai, standar tidak boleh turun. Namun hari itu, suasana ruang rapat terasa menegangkan. Laporan tidak sesuai harapan. Dadaku panas. Nada suaraku meninggi. Aku mengkritik tajam, detail, dan tanpa jeda.

Timku diam.

Tak ada bantahan. Tak ada wajah marah.
Hanya mata yang menunduk dan napas yang tertahan.

Saat itu aku merasa benar, tetapi anehnya hatiku tidak tenang. Aku jengkel, marah, sekaligus lelah.

Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah ringkasan evaluasi internal. Isinya lugas, jujur, dan menusuk egoku. Bukan tentang kinerjaku sebagai pengambil keputusan, melainkan tentang caraku hadir sebagai pemimpin. Aku tersentak. Dadaku sesak. Ada rasa malu, ada amarah, ada keinginan untuk menolak. Namun aku memilih diam.

Malam itu aku merenung.

Aku sadar, aku sering meminta tim untuk terbuka, tetapi tidak selalu siap mendengar. Aku menuntut perbaikan, tetapi lupa menciptakan ruang aman. Kritik yang kuterima terasa pahit, namun di sanalah aku menemukan cermin yang selama ini kuhindari.

Keesokan harinya, aku datang dengan hati yang berbeda.

Aku tidak menarik kata-kata lama, tetapi aku menarik egoku.

Aku mulai mendengar lebih banyak, bertanya lebih dalam, dan menahan diri untuk tidak langsung menilai. Perlahan suasana berubah. Bukan karena konflik hilang, tetapi karena kepercayaan mulai tumbuh.

Aku belajar bahwa kritik bukan serangan, melainkan hadiah yang dibungkus dengan ketidaknyamanan. Ketika diterima dengan rendah hati, ia menjadi jalan perbaikan. Konflik itu tidak meruntuhkan kepemimpinanku, justru memurnikannya.

Kritik yang jujur adalah sarana pertumbuhan. Pemimpin yang kuat bukan yang selalu benar, tetapi yang bersedia belajar.

Mari kita belajar menerima kritik dengan lapang. Kita jadikan setiap masukan sebagai bahan bakar perbaikan, bukan alasan untuk bertahan dalam ego.

“Siapa pun yang berhenti belajar, ia berhenti memimpin.”
— John C. Maxwell

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA