Minggu, H / 01 Maret 2026

Kenapa Orang Susah Berubah Padahal Sudah Ikut Ini Itu & Begini Begitu?

Jumat 13 Feb 2026 10:37 WIB

Author :Iwan Pramana, ST, MM, PCC

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

ESQNews.id, JAKARTA - Yaaaaa... ada banyak sih jawabannya. Tapi kali ini, mari kita tinjau dari salah satu perspektif yang menarik.


Sebut saja Bobi. Seorang leader yang sudah ikut coaching (jadi coachee). Lalu.. dia juga sudah ikut training Leader as Coach.. lalu... dia juga sudah telah mendapatkan insight bagaimana melakukan delegasi yang baik.


Namun...


Dia masih suka micro manage, masih suka men-take over pekerjaan yang tidak sesuai dan tidak selesai yang dikerjakan timnya,.. Akhirnya dia sering mengeluh karena timnya belum bisa diandalkan, belum bisa ini dan itu. Kalo lagi curhat, kalimat favoritnya... "Jadi harus sampai kapan aku begini terus..?"


Jika Anda jadi teman curhatnya Bobi, apa yang akan Anda lakukan?


A. Menasehatinya akan pentingnya timwork sehingga ia harus mulai percaya kepada timnya. (Nasehat ini sudah anda berikan lebih kurang 12x)


B. Melakukan coaching informal (lagi) yang ke-belasan kali, yang paling-paling nanti akhirnya ia akan komit untuk mulai merubah dirinya dalam melihat timnya, lalu... kembali lagi ke kebiasaan micro manage dan take over.


C. Dengerin aja, gak usah diapa-apain. Gak usah dimasukin hati. Percuma,.. udah dibilangin tetep bandel! "... belajar percaya sama orang dong. Kita gak bisa hidup sendiri... (Itu kalimat yg Anda sampaikan padanya dua minggu lalu)


D. Biarkan dia menemukan jawaban sendiri.


Bukan Karena Bobi Tidak Mau Berubah


Robert Kegan & Lisa Lahey pernah bilang bahwa sering kali kita gagal berubah bukan karena kita tidak ingin — tapi karena kita punya komitmen lain yang tersembunyi.


Apa maksudnya?


Secara sadar kita ingin berubah. Tapi secara tidak sadar kita "menjaga" sesuatu yang lain. Hmm.. tiba-tiba saya sadar mengapa usaha diet saya pernah berhasil sekali, sisanya belum berhasil sampai hari ini wkwwkwk..


…Nah, balik lagi ke Bobi. Kalau kita jujur, pilihan A, B, C itu sering banget kejadian di dunia nyata. Dan kadang kita capek juga, karena polanya berulang: Bobi “paham”, Bobi “setuju”, Bobi “komit”, lalu… balik lagi.


Di titik ini, Kegan & Lahey ngajak kita melihat hal yang jarang kita lihat: mungkin Bobi bukan kurang ilmu, mungkin Bobi bukan kurang niat, mungkin Bobi lagi “melindungi” sesuatu.


Karena menurut mereka berdua, di balik komitmen untuk berubah, sering ada komitmen lain yang diam-diam ikut "hidup". Inilah yang mereka sebut competing commitment.


Jadi Bobi ini sebenernya punya dua “janji:


Janji yang dia ucapkan: “Saya mau percaya tim. Saya mau delegasi. Saya mau jadi leader yang ngembangin orang.”


Janji yang nggak dia ucapkan (bahkan mungkin dia sendiri nggak sadar): “Saya harus memastikan semuanya aman. Saya harus memastikan hasilnya bener. Saya nggak boleh jadi leader gagal.”


Nah lo..


Akhirnya apa? Mulutnya bilang delegasi. Tangannya tetap ngambil alih. Dan ini yang menarik … perilaku yang dilakukan itu kadang bukan sekadar “kebiasaan buruk”.


Bisa jadi itu sistem pertahanan diri. Bobi mungkin sedang menjaga rasa aman. Menjaga reputasi. Menjaga identitas “leader yang kompeten”. Menjaga “kalau saya nggak turun tangan, saya bakal ditinggal dan disalahkan”.


Lalu di bawah competing commitment itu, ada lagi yang lebih dalam: big assumption — asumsi besar yang dianggap fakta.


Misalnya:


“Kalau saya nggak take over, hasilnya pasti kacau.”


“Kalau tim gagal, saya yang malu.”


“Kalau saya percaya orang, saya bakal kecewa.”


“Kalau saya nggak kontrol, saya kehilangan wibawa.”


Dan selama asumsi ini masih dianggap benar, Bobi akan tetap balik ke kebiasaannya… walau sudah ikut training paling mahal pun.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA