Minggu, H / 01 Maret 2026

Jalan Panjang Bernama Proses

Jumat 23 Jan 2026 09:36 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Aku pernah menjadi atasan yang merasa paling benar. Target harus tercapai, waktu tidak boleh molor, emosi harus ditelan. Di ruang rapat itu, aku berbicara dengan nada tegas, bahkan dingin. Wajah-wajah di depanku diam. Tidak ada bantahan. Tidak ada perlawanan. Justru itu yang membuat dadaku sesak. Diam mereka seperti cermin yang memantulkan sisi diriku yang tak ingin kulihat.


Hari-hari berikutnya terasa tegang. Aku marah, jengkel, lelah. Aku merasa tidak dipahami, merasa bekerja paling keras. Namun di sela malam yang sunyi, ada sedih yang pelan-pelan menyelinap. Aku bertanya pada diri sendiri, “Mengapa kepemimpinan yang kujalani justru menjauhkan, bukan menguatkan?”


Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara mereka menunduk saat berbicara. Cara tawa mereka terdengar kaku. Tidak ada yang melawan, tidak ada yang pergi, tetapi semangat itu seperti redup. Di sanalah aku sadar, konflik terbesar bukan antara aku dan tim, melainkan antara egoku dan nuraniku.


Aku memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena ingin mendengar. Dalam diam itu, aku belajar memeluk proses. Aku belajar bahwa menjadi atasan bukan tentang selalu benar, melainkan tentang berani bertumbuh. Aku menurunkan nada suara, membuka ruang dialog, dan yang terpenting, membuka hati. Perlahan, suasana berubah. Tidak instan, tidak dramatis. Tapi hangat.


Aku mengerti kini, jalan kepemimpinan memang panjang dan sering melelahkan. Ada marah, ada kecewa, ada haru. Namun setiap proses selalu membawa hikmah jika aku mau berhenti menyalahkan dan mulai bercermin.


Proses tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara kita memaknainya.


Mari kita, sebagai pemimpin maupun anggota tim, belajar memeluk proses dengan rendah hati. Kita tumbuh bukan dengan saling menyalahkan, tetapi dengan saling menyadarkan.


“Pemimpin sejati bukanlah yang memiliki kekuasaan terbesar, tetapi yang memiliki pengaruh terbesar.”

– John C. Maxwell


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA