Film adalah cerita model
baru, jaman dahulu disebutnya dongeng. Dongeng yang di visualisasikan dalam
bentuk gambar. Film adalah suatu kreasi yang menggambarkan suatu kendaraan
pengantar pesan-pesan.
ESQNews.id, JAKARTA – Bulan Oktober, merupakan rencana penayangan Film The Santri. Sekaligus menyambut Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Namun setelah official trailer filmnya keluar banyak sekali komentar dari warganet dan masyarakat.
Melansir dari Channel Youtube Aswaja TV, saat pengajian seorang Jamaah Al-Bahjah asal Jakarta bertanya kepada Buya Yahya.

<more>
“Buya saat ini ada sebuah produksi film yang sedang membuat film tentang santri. Namun yang disayangkan adalah dalam beberapa informasi yang beredar film tersebut tidak mencerminkan kehidupan santri yang berpegang teguh terhadap syariat islam sehingga banyak juga masyarakat yang mencekal film tersebut. Film tersebut rencananya akan diluncurkan kepada masyarakat beberapa bulan ke depan. Bagaimana kita menyikapi hal tersebut?” tanyanya.
Masalah film, bolehkah seorang muslim membuat film? Film adalah suatu kreasi yang menggambarkan suatu kendaraan pengantar pesan-pesan. Pesan moral, budaya, pemikiran. Jadi film secara hukum adalah bukan sesuatu yang terlarang.

Berikut adalah pandangan menurut Buya Yahya terkait pembuatan Film:
1. Tentukan film seperti apa yang akan dibuat, misal
bertema Islami. Dikontrol oleh orang-orang yang mengerti syariat Islam dalam
pembuatan skenarionya.
2. Film tersebut selesai dibuat, harus dikontrol
lagi oleh yang bersangkutan sebelum diturunkan filmnya.
3. Proses pembuatannya harus Syar’i. Tidak
semestinya laki dan perempuan berpelukan dan membuka auratnya.
4. Misalnya pesantren adalah sebagai
referensinya. Kita harus tahu betul karakter di pesantren, kehidupan pesantren
dan harus mencerminkan akhlak yang baik.
5. Kemudian yang membuat film itu juga harus yang kenal agama dan karakter pesantren.
“Ceritanya tentang kemuliaan akhlak, jangan sampai
pake label pesantren tapi ceritanya ngaco. Maka akan merusak nama pesantren, membuat
peperangan, permusuhan, harusnya tonjolkan ciri khas pesantrennya,” tutup Buya
Yahya.