Minggu, H / 01 Maret 2026

Cermin yang Tidak Pernah Berbohong

Senin 05 Jan 2026 07:57 WIB

Author :Hary Kuswanto

Ilustrasi

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA — Pagi itu aku berdiri di depan cermin sebelum berangkat kerja. Wajahku rapi, senyumku terlatih. Tapi mataku lelah. Ada target yang belum tercapai, ada rapat yang membuat dada sesak, ada ekspektasi yang rasanya tak pernah turun. Aku menarik napas panjang, lalu berangkat, membawa semua itu ke meja kerja.


Di kantor, dinamika berjalan seperti biasa. Email datang tanpa henti, pesan masuk bertubi-tubi, dan satu kesalahan kecil terasa seperti sorotan lampu panggung. Ada saat aku jengkel, marah dalam diam, merasa tidak dipahami. Ada pula momen sedih ketika usahaku seolah tak terlihat.


Namun anehnya, di sela tekanan itu, aku masih bisa tertawa kecil bersama rekan kerja, masih bisa merasa bahagia ketika satu tugas selesai tepat waktu. Perasaanku campur aduk, seperti hidup itu sendiri.


Suatu sore, setelah hari yang panjang dan menegangkan, aku kembali bercermin. Kali ini bukan cermin di kamar mandi kantor, tapi cermin batin. Aku bertanya pada diri sendiri, Apa yang sebenarnya membuatku lelah? Pekerjaannya, atau caraku menyikapinya?


Pertanyaan itu menusuk, tapi jujur. Cermin itu tidak pernah berbohong. Ia memperlihatkan bahwa sebagian bebanku lahir dari keinginanku sendiri untuk selalu sempurna dan diaklipun semua orang.


Aku mulai memahami, lingkungan kerja memang penuh tuntutan, tapi responsku adalah pilihanku. Aku bisa terus menyalahkan keadaan, atau belajar melihat hikmah di baliknya. Aku memilih yang kedua. Aku belajar memaafkan diri saat belum maksimal, belajar bersyukur atas proses, dan belajar bekerja dengan niat yang lebih lurus sebagai amanah, bukan ajang pembuktian.


Hari-hari berikutnya tak serta-merta menjadi mudah. Target tetap ada, tekanan tetap terasa. Namun hatiku lebih tenang. Setiap kali emosi naik, aku kembali bercermin, sudahkah aku jujur pada diriku sendiri hari ini?


Lingkungan kerja sering kali menjadi cermin kejujuran diri. Ia menunjukkan bukan hanya kemampuan kita, tetapi juga cara kita mengelola emosi, niat, dan makna bekerja.


Mari kita belajar bercermin bersama. Kita perbaiki yang bisa kita perbaiki, kita terima yang belum sempurna, dan kita jalani pekerjaan dengan hati yang lebih sadar.


“Dia yang menguasai dirinya sendiri adalah orang yang paling kuat.”

— Lao Tzu


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA