Senin, H / 13 April 2026

Belajar Ikhlas dari Sebuah Kesalahan

Selasa 10 Feb 2026 10:37 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Aku masih ingat pagi itu dengan jelas. Ruang rapat terasa dingin, bukan karena pendingin udara, tetapi karena kekecewaan yang menggantung. Target meleset. Laporan tidak rapi.


Sebagai atasan, dadaku penuh emosi. Aku berbicara keras, tegas, dan tanpa sadar melukai. Wajah timku tertunduk. Tidak ada perlawanan, hanya diam yang menekan.


Usai rapat, aku duduk sendiri. Marah bercampur kecewa, namun perlahan berubah menjadi sedih. Aku merasa gagal, bukan karena hasil kerja, tetapi karena caraku memimpin. Aku ingin kuat, ingin dihormati, tetapi lupa bahwa kekuatan tanpa empati hanya akan menciptakan jarak.


Hari-hari berikutnya terasa canggung. Aku melihat kerja tetap berjalan, tetapi ada sesuatu yang hilang. Semangat itu redup. Di titik itu, aku memilih berhenti sejenak. Aku bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya ingin kita bangun di tempat ini?” Jawabannya sederhana namun menohok: kepercayaan.


Aku mengumpulkan tim kembali. Kali ini, suaraku lebih pelan. Aku mengakui kesalahanku. Tidak ada pembelaan, tidak ada menyalahkan keadaan. Hanya kejujuran.


Suasana berubah. Ada mata yang berkaca-kaca, ada napas yang terasa lebih lega. Aku belajar, mengakui salah bukan tanda lemah, melainkan pintu menuju pemulihan.


Perlahan, kami bangkit bersama. Aku belajar mendengar sebelum menilai, memahami sebelum menuntut. Tekanan tetap ada, pekerjaan tetap berat, tetapi ada kehangatan yang tumbuh.


Aku menyadari, ikhlas bukan berarti menurunkan standar, melainkan membersihkan niat. Dari situ, energi tim kembali hidup.


Di balik kesalahan itu, aku menemukan pelajaran berharga. Kepemimpinan bukan tentang selalu benar, tetapi tentang berani belajar. Bukan tentang ego, melainkan tentang keberanian merawat manusia.


Kesalahan adalah guru yang jujur. Ketika kita ikhlas belajar darinya, kita bertumbuh lebih dewasa.


Mari kita belajar memimpin dengan hati. Kita perbaiki cara, luruskan niat, dan jadikan setiap kesalahan sebagai jalan menuju versi diri yang lebih baik.


“Satu-satunya kesalahan sejati adalah kesalahan yang tidak kita pelajari.”

— John Powell


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA