ESQNews.id, MALAYSIA — Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah program pengembangan diri untuk mempertahankan eksistensinya di negara lain. Namun, perjalanan ESQ di Malaysia memasuki lebih dari dua dekade dan telah menjangkau sekitar 200.000 peserta.
Terbaru, lebih dari 700 peserta kembali berkumpul dalam ESQ Personal Transformation Program (PTP) Grand Event Level 1 di SACC Shah Alam, Malaysia, pada 22–24 Agustus 2026.
Pertanyaannya, apa yang membuat ESQ tetap relevan ketika dunia telah berubah begitu cepat?
Teknologi menjadi salah satu jawabannya, sekaligus tantangannya.
Dua puluh tahun lalu, manusia belum hidup dalam ekosistem artificial intelligence seperti sekarang. Hari ini, seseorang dapat mempelajari hampir semua hal melalui internet.
Informasi tersedia dalam jumlah tak terbatas dan teknologi semakin mampu membantu manusia bekerja, belajar, bahkan mengambil keputusan.
Namun, ada wilayah yang tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada teknologi: hati nurani dan spiritualitas.
Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih cepat dan semakin pintar. Tetapi pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa ia hidup, nilai apa yang harus dijaga, dan bagaimana ia memperlakukan manusia lain tetap membutuhkan kesadaran manusia itu sendiri.
Di titik inilah ESQ melihat relevansi Personal Transformation Program.
Training ESQ tidak hanya menawarkan pengetahuan. Pendekatan yang digunakan berupaya menghubungkan aspek intelektual, emosional, dan spiritual dalam proses pengembangan diri.

Selama tiga hari di Shah Alam, peserta tidak hanya mengikuti sesi pembelajaran. Mereka juga berada dalam sebuah lingkungan yang memungkinkan terbentuknya pengalaman bersama.
Ratusan orang dengan latar belakang berbeda hadir dalam satu ruangan, membawa tujuan yang relatif sama: ingin menjadi manusia yang lebih baik.
Energi kolektif tersebut menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman training.
ESQ menyebutnya sebagai shared energy dan shared power, sebuah energi bersama yang muncul ketika orang-orang dengan niat positif berkumpul dan saling menguatkan.
Kekuatan hubungan antarmanusia inilah yang dinilai tidak mudah didigitalisasi.
Perjalanan ESQ di Malaysia juga tidak dibangun hanya melalui program. Hubungan yang terjalin selama lebih dari 20 tahun turut bertumpu pada kedekatan budaya dan nilai antara Indonesia dan Malaysia sebagai bangsa serumpun.
ESQ berupaya hadir bukan sebagai pihak asing, tetapi sebagai saudara yang membangun silaturahmi dan tumbuh bersama masyarakat setempat.
Momentum Grand Event tahun ini pun menjadi semakin bermakna karena berdekatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peserta diajak menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah dan menghidupkan nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Ary Ginanjar Agustian, keberlanjutan ESQ di Malaysia tidak semata-mata dapat dijelaskan oleh kekuatan organisasi.
Ada kepercayaan masyarakat, konsistensi dalam menjaga nilai, manfaat yang dirasakan peserta, serta keyakinan spiritual yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Lebih dari sekadar angka dua dekade dan ratusan ribu peserta, perjalanan itu menunjukkan bahwa ada kebutuhan manusia yang tetap sama meskipun zaman berubah: kebutuhan untuk menemukan makna, membangun karakter, memiliki tujuan hidup, dan terhubung dengan nilai spiritual.
AI boleh semakin pintar.
Teknologi boleh semakin canggih.
Namun, selama manusia masih membutuhkan makna, nilai, hati nurani, dan hubungan antarmanusia, ruang untuk melakukan transformasi diri akan tetap dibutuhkan.
Dari Shah Alam, lebih dari 700 peserta ESQ PTP Grand Event kembali membawa pesan persaudaraan Indonesia-Malaysia sekaligus sebuah keyakinan: sesuatu yang paling penting dalam diri manusia bukanlah hal yang paling mudah didigitalisasi.


