ESQNews.id, MALAYSIA — Ada pemandangan yang menarik dalam pelaksanaan ESQ Personal Transformation Program (PTP) Grand Event Level 1 di SACC Shah Alam, Malaysia. Di tengah rangkaian training selama tiga hari, bukan hanya materi pembelajaran yang menjadi perhatian.
Sikap peserta terhadap guru justru meninggalkan kesan mendalam bagi trainer ESQ.
Lebih dari 700 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung pada 22–24 Agustus 2026 tersebut.
Mereka hadir untuk mengikuti program transformasi personal yang memadukan pembelajaran dengan pengalaman reflektif dan spiritual.
Bagi Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, ada satu pelajaran yang justru ia bawa pulang dari para peserta di Malaysia: adab kepada guru.
Menurutnya, masyarakat Malaysia menunjukkan penghormatan yang kuat terhadap orang yang memiliki ilmu dan menyampaikannya kepada orang lain. Penghormatan itu tidak semata-mata diberikan karena status sosial, jabatan, ataupun kekayaan.
Nilai seseorang dihargai karena ilmu dan keteladanan yang dibawanya.
“Adab sebelum ilmu” menjadi pesan yang terasa semakin relevan karena pelaksanaan training berlangsung dalam momentum yang berdekatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peringatan kelahiran Rasulullah menjadi ruang refleksi bahwa mencari ilmu tidak dapat dipisahkan dari bagaimana seseorang bersikap terhadap orang yang mengajarkan ilmu tersebut.
Dalam konteks pendidikan dan pengembangan diri, pengetahuan memang penting. Namun, ESQ menempatkan karakter dan nilai sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses transformasi manusia.
Hal tersebut juga tercermin dalam konsep Personal Transformation Program yang mengajak peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman, tetapi melanjutkannya menjadi kesadaran dan perubahan perilaku.
Selama tiga hari, suasana training diisi dengan sesi inspirasi, pembelajaran, dan refleksi. Para peserta diajak melihat kembali kehidupan personal mereka, hubungan dengan keluarga, pekerjaan, lingkungan, serta hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Bagi Ary Ginanjar, pengalaman di Shah Alam menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat manusia kehilangan adab.
Teknologi dapat membuat seseorang memperoleh informasi dengan cepat. Kecerdasan buatan bahkan dapat membantu manusia mempelajari berbagai hal dalam waktu singkat.
Namun, teknologi tidak secara otomatis mengajarkan seseorang bagaimana menghormati guru, menyayangi orang tua, menjaga hubungan dengan sesama, atau membangun kehidupan yang bermakna.
Karena itulah, training yang mempertemukan manusia secara langsung masih memiliki relevansi.
Di dalam sebuah ruang yang sama, peserta tidak hanya mendengar materi. Mereka berinteraksi, merasakan energi kelompok, melihat keteladanan, dan mengalami proses refleksi bersama.
“Semoga kita semua belajar untuk senantiasa memuliakan orang tua dan guru, karena bisa jadi di sanalah rahmat dan keberkahan Allah SWT diturunkan,” pesan Ary Ginanjar.
Dari Negeri Jiran, ESQ PTP Grand Event menghadirkan sebuah refleksi sederhana: semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula adabnya.
Dan mungkin, di tengah derasnya arus teknologi hari ini, kemampuan untuk tetap memuliakan guru justru menjadi salah satu bentuk kecerdasan manusia yang paling penting.


