Sabtu, H / 17 April 2021

Semangat Kunci Sukses Entrepreneur

Sabtu 01 Jun 2019 10:21 WIB

Source :ESQ Magazine

Anjar Yusuf Ramadan

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id - Tidak ada salahnya jika masa muda dipakai untuk bersenang-senang. Namun akan lebih bermanfaatkan jika usia muda digunakan untuk mengejar serta mewujudkan cita-cita.


Memiliki uang yang banyak di kala muda, bukan suatu hal yang mustahil apabila kita bersungguh-sungguh berusaha,  dan jalannya adalah entrepreneur. Inilah yang sampaikan Anjar Yusuf  Ramadan, mahasiswa Universitas Indonesia.


Menurut Anjar modal bukanlah syarat pertama dalam memulai usaha. Tapi lebih penting dari itu adalah semangat. “Yang harus dibutuhkan pertama adalah semangat. Teman berkata kepada saya, jika ada suatu kemauan maka seribu pintu akan kebuka, tapi kalau ada rasa tidak mau maka seribu alasan yang akan keluar. Jadi pertama semangat dan keyakinan menjalani visi tersebut,” tuturnya.


Kemandirian yang dimilikinya saat ini, tidak lepas hasil gemblengan sang ayah. Pria yang lahir di Denpasar, 13 November 1991, mengatakan ayahnya menggajarkan untuk bertanggung jawab dan berusaha. “Mungkin ini dari didikan ayah saya, karena saya tidak diperbolehkan untuk meminta. Berangkat dari situ saya mencoba untuk mencari uang sendiri,” ungkapnya.


Meski belum memiliki pengalaman dalam dunia usaha, namun lulusan SMA Al-Azhar ini memberanikan diri untuk memulai usahanya dengan membuka garmen. Ia pun mengajak teman-temannya untuk bergabung dalam proyeknya tersebut.


“Dulu hanya coba-coba saja. Awalnya saya melihat di kampus orang pada bikin baju, lalu saya cetuskan untuk ambil usaha itu. Kalau jadi calo untungnya sekian, tapi bisa maksimal kalau kita bikin sendiri. Saya ajak teman SMA untuk gabung, kebetulan mereka juga kuliah di UI,” ungkapnya.


Berkat kejeliannya melihat peluang, Anjar kini mempunyai penghasilan yang terbilang besar sebagai mahasiswa. Saat semester dua, ia melihat orang mengenakan jam mewah. Terbesit keinginan untuk memiliki, tidak mungkin rasanya seorang mahasiswa mampu membeli jam mahal dengan uang sakunya. Akhirnya Anjar pun mencari cara untuk memilikinya. Setelah menemukan cara dan berhasil, ia memutuskan untuk serius berwiraswasta.


“Banyak orang memakai jam mahal semisal Rolex yang harganya sekitar Rp 100 juta, akhirnya saya tetapkan ingin membeli jam mahal sendiri. Alhamdulillah saya bisa memilikinya,” kata Anjar dengan semangat.


Ketika sudah mampu mewujudkan keinginannya, Anjar memiliki mimpi baru, yaitu menikah pada 2014. “Ingin nikah di 2014, tapi ternyata banyak sekali yang harus diperlukan. Saya makin berkobar untuk mencari cara agar niatan tersebut bisa tercapai. Dalam hati berkata, jika saya bisa mendapatkan jam ini dalam waktu beberapa bulan, maka saya harus mendapatkannya lebih cepat dari itu agar niatan saya terwujud,” tuturnya penuh harap.


Pria yang mendalami bela diri Wing Chun ini mengungkapkan dirinya merasa miris melihat fenomena post power syndrome yang kerap menimpa orang-orang yang akan memasuki dunia masa purna bakti.


“Saya melihat problema dari para pensiunan di kanan-kiri, setelah itu saya cek dan amati. Sepertinya mereka tidak siap atau khawatir kondisinya ketika pensiun. Ada salah satu kerabat, sebelum pensiun asetnya banyak sekali tapi setelah pensiun asetnya malah hilang. Jadi menurut saya ada sesuatu yang hilang dari mereka,” imbuhnya.


Setelah lama mengamati dan memperlajari lingkungan sekitar, Anjar mulai meracik ‘ramuan’ khusus yang dapat diaplikasikan bagi para calon pensiun. Ramuan tersebut ia sajikan dalam training Masa Persiapan Pensiun (MPP).


Bersama tim, ia memberikan bimbingan dan pendampingan ke peserta untuk memilih bidang usaha yang dianggap tepat dan mengelola keuangannya. Pasalnya jika para pensiunan tidak tepat mengelola dana yang ada, maka mereka akan mengalami kebangkrutan.


“Diperlukan modul yang komprehensif, tidak bisa para pesiunan ujuk-ujuk datang ke kunjungan usaha. Penyelamatan para pensiun ada dua, yaitu gas dan rem. Rem ini bagaimana cara mengelola, kedua gas bagaimana menciptakan bisnis baru. Terkadang mereka membuka usaha tapi pendapatannya hanya 1 persen dari modal, kalau begitu bisa saja mereka ikut deposito dan tidak perlu cape-cape kerja,” jelasnya.


Pelatihan MPP ini tidak hanya terpaku pada satu materi saja yaitu mendidik peserta menjadi pengusaha. Tetapi ESQ MPP juga memiliki formula lain, tapi itu tergantung dari para peserta setelah ingin pensiun ingin menjadi apa. Ini disebut dengan solution forum.


Bagi Anda yang saat ini bingung memutuskan wiraswasta atau bekerja di perusahaan, menurut Anjar ada baiknya mempertimbangkan baik-buruknya. Jika motivasinya uang, Anda harus menghitung uang yang akan didapat kalau bekerja semisal di perusahaan besar dan hitung pula berapa kira-kira yang Anda butuhkan untuk hidup enak.


“Tentu Anda mempunyai bayangan mimpi hidup enak itu seperti apa. Kalau menurut Anda itu cukup maka lanjutkan, apalagi kalau pekerjaannya sesuai dengan keinginan. Tapi kalau tidak, jalan keluar dari situ dan untuk mendapat uang yang Anda perlukan jadilah pengusaha,” imbuhnya.


Lalu apabila ingin membuka usaha, Anda tidak perlu belajar bagaimana menjalankan usaha tersebut tapi yang harus dipikirkan adalah siapa yang menjalankan usaha tersebut. ”Semisal, kalau Anda ingin membuka rumah makan, tidak perlu Anda menjadi koki dulu. Tapi yang Anda harus lakukan adalah How atau mencari orang yang tepat (Koki) untuk menjadi orang yang butuhkan di usaha Anda. Jadi Anda tidak perlu susah-susah,” tutup Anjar. (jos)

*Artikel pernah diterbitkan di rubrik Entrepreneur, ESQ Life Magazine edisi Desember 2013.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA