Sabtu, H / 17 April 2021

Selangkah Lebih Nekad

Senin 20 Jan 2020 14:55 WIB

Author :M. Nurroziqi

M. Nurroziqi dan Dimas.

Foto: dok.IST

Oleh: M. Nurroziqi


ESQNews.id - Dimas, namanya. Sebelum ini, kita pernah belajar bersama di satu suasana. Beberapa tahun lalu. Sore tadi, tanpa disengaja, berjumpa kembali di suasana yang sama. Belajar juga.


Saya memperhatikannya ketika tadi belajar. Saya ingat-ingat kembali. Karena saya sudah lupa namanya. Hanya wajahnya serasa tidak asing di ingatan. Begitu istirahat. Pas pose jatuh belakang. Saya minta ijin kepada pelatih-pelatihnya untuk bisa memanggilnya. Begitu dekat. Dan salaman sembari menyapa dengan langsung menyebut nama saya. Wah. Ternyata, ingatannya lebih mapan dibanding saya. Padahal usia kita tidak terpaut jauh. Qiqiqiqiqqi. Kemudian, dia menyebutkan nama ketika saya menanyakannya. Ough iya. Saya ingat.


Sedikit pemalu. Lebih banyak merunduk dan sepertinya ada banyak hal yang tidak bisa diekspresikannya secara bebas. Seperti dulu ketika masih belajar bersama. Ketika itu, di saat istirahat, Dimas ini menjumpai saya dan menanyakan mengenai latihan silat. Beberapa kali. Itu pun dengan pose wajah yang tidak berani menatap langsung. Merunduk. Seperti ini tadi. Ketika saya ajak berfoto. Masih dengan sedikit “memaksa”. Maunya sih menunduk. Tidak mau menatap kamera. Akhirnya, “lak gak gelem foto, tak dowerno.” Qiqiqiqiq.


Melihat Dimas ini ikut latihan silat, saya membaca bahwa niatnya yang dulu, ditekadkan kembali dengan sangat kuat. (Tidak hanya Dimas ini, yang lain juga. Kapan-kapan saya ceritakan. Terlebih Aisy dan Eni. Selangkah lebih nekad, D'Octa juga. Qiqiqiqiqi) Keinginannya untuk belajar silat beberapa tahun lalu yang disampaikan ke saya, kini benar-benar dikerjakan. Memang, dalam banyak hal di kehidupan ini, tekad memiliki peran penting. Tentu, tidak nekad sendirian. Tetapi, harus juga ditunjang dengan niat yang hebat.


Apa beda niat dengan tekad?

Ups. Maaf. Kita sedang memperbesar persamaan. Tidak sedang mencari perbedaan. Sehingga, sepanjang tulisan ini, tidak akan menguraikan tentang perbedaan-perbedaan. Tetapi, bagaimana kita bisa saling merekatkan dan saling melengkapi. Qiqiqiqiqiqi.


Niat dan tekad adalah dua hal yang harus selalu disatukan. Tidak boleh ambyar. Sebab, keduanya saling melengkapi. Demi satu tujuan yang pasti. Jika niat saja, tanpa adanya tekad. Maka, apapun itu yang diniatkan, hanya sekadar menjadi angan dan bayang-bayang pikiran belaka. Masih gampang didera malas dan ogah-ogahan. Masih memunculkan banyak alasan untuk menunda bahkan membatalkan. Sedang peranan tekad, adalah menggerakkan seluruh potensi dan kemampuan diri untuk mewujudkan apapun yang sudah diniatkan di dalam hati. Sehingga, dengan tekad yang kuat, segala aral merintang akan mudah diterjang. Beragam jenis hambatan akan dengan sangat mudah bisa diselesaikan.

<more>

Niat belajar, misalnya. Ketika tidak ada tekad. Maka, bisa jadi sudah berada dalam suasana belajar. Tetapi, seluruh yang dipelajari sulit diterima. Tidak gampang mendapatkan apa yang sudah diniatkan tadi. Ya latihan, doweran, ya materian. Begitu tanpa tekad. Hanya lelah yang didapat. Materinya lupa. Pelajarannya sirna. Ini, belum ketika diserang malas. Maka, ada saja alasan untuk menggagalkan keinginan. Sebaliknya, tanpa niat. Hanya ada tekad. Belajar pun menjadi tidak fokus. Banyak mainnya. Tidak ada kepastian mengenai sesuatu yang dikejar. Tidak ada cita-cita yang ingin dicapai.


Nah. Atas tergabungnya niat dan tekad di dalam diri, maka hal paling mendasar yang harus dicamkan betul adalah tentang kuasa Allah Swt. Niatnya apapun itu, harus Lillahi Ta'ala. Dan tekadnya, sehebat dan sekuat apapun itu, tetap harus disadari sebagai “Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adhim”. Dengan demikian, apapun saja yang akan terjadi nanti, diri akan tetap selamat dan terselamatkan.


Selamat karena seluruhnya hanya demi Allah Swt. Dengan ini saja, diri tidak akan berani macam-macam. Apalagi berbuat sesuatu yang tidak sejalan dengan aturan-Nya. Dan terselamatkan, karena jika apa yang menjadi niat dan tekadnya berhasil, maka tidak akan timbul rasa sombong, tidak akan merasa paling hebat, bebas dari riya'. Ketika tidak berhasil pun, maka diri akan tetap tenang dan hidup tentram. Sebab, sudah menyadari sejak semula bahwa semua, apapun itu, harus atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.


Semoga, Allah Swt menganugerahi kita semua hanya niatan-niatan baik, serta tekad-tekad yang hebat untuk meraihnya. Dan semoga setiap keinginan kita segera terwujud nyata dengan cara yang paling nikmat dan indah.

 

Al-Aman. Al-Aman. Al-Aman.

Allohumma Indonesia Raya Aman.



*M. Nurroziqi. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis buku-buku Motivasi Islam.




Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA