Sabtu, H / 17 April 2021

Santri Kalong [Part 1]

Jumat 25 Oct 2019 11:02 WIB

Author :Mushlihin

ilustrasi

Foto: google pics

Oleh: Mushlihin

ESQNews.id - Alkisah pertengahan tahun 1986 seorang saleh beribadah mendalami agama Islam dengan sungguh-sungguh, ikut pesantren malam. Penduduk setempat menyebutnya "santri kalong". Karena kalong adalah  kelelawar besar yang makan buah-buahan pada waktu malam. Sementara pada siang hari tidur di rumah.

 

Setiap petang Ia berjalan kaki setengah kilometer menyusuri bebatuan dan kerikil tajam. Lantaran  jalanan belum  diaspal maupun dilakukan pengecoran. Alias makadam. Yaitu pengerasan jalan dengan cara memberi dua macam lapisan batu-batuan, kasar dan halus. Sedangkan jika hujan pasti licin. Tak bisa dilalui kendaraan, saking buruknya. Anehnya pihak berwenang kurang perhatian.

 

Selain itu suasana gelap gulita menjadi langganan. Perusahaan  Listrik Negara  belum dipasang. Masyarakat masih menggunakan damar atau pelita. Hanya orang kaya dan tempat ibadah yang mampu menyalakan  petromaks. Lampu yang menggunakan kaus sebagai sumbu, dinyalakan dengan bantuan nyala spirtus. Bahan bakarnya berupa minyak tanah disemburkan ke sumbu kaus oleh udara yang dipompakan menggunakan tangan. Tapi harus hati-hati. Ikuti petunjuk pemakaian. Sebab pernah salah santri terbakar pada tubuh bagian belakang.

 <more>

Walhasil wali santri mengusulkan agar secepatnya membeli diesel cadangan. Pihak pengurus pun melaksanakan usulan. Saban hari, santri ditugasi menyalakan dan mematikan secara bergiliran. Karena sembrono ada yang kesetrum sampai pingsan. Solusinya dicarilah relawan dan pekerja harian.

 

Berikutnya genset itu dialirkan ke rumah warga. Kontan banyak yang membeli media elektronik seperti tv dan vcd. Santri yang haus hiburan tergoda menonton ke tetangga. Pemilik  lambat laun terganggu kenyamanannya bercengkerama dengan keluarga.

 

Nah dalam rangka mengatasi keluhan warga dan guna meningkatkan wawasan para santri, maka disediakan televisi 26 inc di asrama. Permasalahan programnya banyak yang menyalahi norma. Semisal pelacuran, pornografi dan pornoaksi. Mencemari otak santri.

 

Resiko lain, santri sering begadang.  Otomatis haus dahaga butuh camilan. Berhubung tak ada penjual jajan tengah malam, dengan terpaksa mengambil tanaman jagung kiai untuk dibakar. Habis kira-kira seluas seperempat hektare.

 

Setelah itu perutnya mulas dan ingin buang air besar. Toilet yang tersedia kurang lebar. Berak sembarangan pun melebar. Muncullah ide membuat wc di atas tambak  staf pengajar. Tinja langsung dilahap oleh ratusan ikan yang sudah lapar.

 

Tiba saatnya istirahat. Yang terbaik adalah tidur. Tanpa bantal dan dipan. Mata sulit dipejamkan sampai larut malam. Walau ia coba tidur di tengah teman-teman. Apalagi suara dengkuran bersahutan memecah keheningan. Lagi pula menurut cerita lokasi pesantren ini cukup seram. Terbukti ada saudara pengasuh yang hilang. Dibawa ke alam jin, berdasarkan dugaan.


Bersambung ke >>>> Santri Kalong [Part 2]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA