ESQNews.id, BOGOR - Pesantren Tahfiz Assyifa Al-Islami, Desa Waru Jaya, Bogor, bertransformasi menjadi pusat dakwah digital melalui kegiatan Program Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) bertema “Digitalisasi Eco-Pesantren: Podcastpreneurship sebagai Strategi Pemberdayaan Ekonomi dan Kepemimpinan Santri”.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Ary Ginanjar dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, berdasarkan Kontrak No. 1036/LL3/DT.06.01/2025.

Program yang dipimpin oleh Ahmad Maulidizen, dosen Universitas Ary Ginanjar sekaligus Ketua Tim PKM, bertujuan membekali para santri dengan keterampilan digital, kepemimpinan, dan kewirausahaan kreatif.
“Melalui podcast, santri tidak hanya berdakwah, tapi juga belajar mengelola konten digital bernilai ekonomi. Kami ingin menyiapkan santri yang kreatif, adaptif, dan mandiri dalam menghadapi era disrupsi digital,” ujar Ahmad Maulidizen dalam sambutannya.

Kegiatan pelatihan ini menghadirkan suasana yang inspiratif. Aula pesantren disulap menjadi studio mini dengan perlengkapan podcast profesional. Para santri terlihat antusias mempelajari teknik produksi, mulai dari menulis naskah, merekam suara, hingga mengedit dan mempublikasikan konten ke platform seperti Spotify dan YouTube.

Puncaknya, mereka berhasil meluncurkan Podcast Assyifa, kanal dakwah digital pertama yang dikelola langsung oleh santri. Salah satu peserta, Siti Aisyah, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru.
“Melalui Podcastpreneurship, kami tidak hanya belajar berdakwah secara kreatif, tapi juga bagaimana konten bisa punya nilai ekonomi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh Muhammad Fadhil, koordinator tim produksi podcast, yang menilai kegiatan ini memperkuat rasa percaya diri santri dalam berdakwah dan berinovasi.
Pimpinan Pesantren Tahfiz Assyifa Al-Islami menyampaikan apresiasi kepada Universitas Ary Ginanjar dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas dukungannya.
“Program ini menjadi bukti bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, pesantren tidak hanya memperkuat dakwah berbasis digital, tetapi juga membuka peluang kewirausahaan baru bagi santri.
Program PKM ini diharapkan menjadi model pengembangan Eco-Pesantren Digital di Indonesia yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, teknologi, dan kemandirian ekonomi.





