ESQNews.id, JAKARTA – Masih diperbincangkan dan masih dalam
uji coba untuk sistem zonasi ini. Banyak yang berkomentar antara pro maupun
kontra. Tentu saja proses sistem zonasi para masyarakat khususnya orangtua yang
akan memasukkan putra dan putrinya ke sekolah. Ada hal positif maupun negative.
Telah beredar salah satu alumni siswa di Majalengka yang merasa dirinya hoki masuk sekolah yang nomor 1 di
Majalengka berkomentar tentang sistem zonasi. Riza D. Januar memaparkan pengalamannya saat
bersekolah di sekolah favorit.
Masuk ke sekolah favorit tidak serta merta merubah seseorang jadi lebih baik. Kalau harapan orangtua ingin anaknya masuk sekolah favorit karena ingin nilainya bagus, tapi sehari-harinya tidak mengigatkan anaknya yang kecanduan maen game ya sama saja bohong.
Pengawasan dan
dukungan orangtua terhadap anak tetap nomor satu. Persepsi yang salah adalah
ketika orangtua menganggap tugasnya selesai saat anaknya sudah masuk ke sekolah
favorit. Emangnya sekolah tempat penitipan anak?
"Tapi, Pak,
Buk, dan sobat bsco semuanya meskipun sekolah favorit menjadi salah satu faktor
anak bisa masuk PTN/PTS di jurusan yang diinginkan orangtua anak yang saat ini
terganjal karena adanya sistem zonasi. Hal ini tidak serta merta membuat kita
mengabaikan faktor lainnya," tegasnya.
Siswa alumni sekolah di Majalengka ini setuju dengan tulisan Niken di Mojok.co. "Ketimbang jejel-jejelin anaknya
masuk sekolah favorit, mending fokus untuk bikin keluarga favorit. Bikin
suasana yang bikin anaknya semangat belajar, rajin menabung, dan rajin ke
masjid. Jadi gak perlu pusing dan bisa bersikap bodo amat dengan sistem zonasi
sekolah,"
Ini semua menurut pengalaman Riza, baginya tanggapan orang tentu berbeda-beda ia hanya membeberkan apa yang dia rasakan sendiri saat menjadi salah satu pelajar di sekolah favorit.