ESQNews.id, JAKARTA - Pagi itu saya duduk di teras rumah setelah sahur. Langit masih gelap, udara terasa tenang, dan kota belum sepenuhnya terbangun. Di tangan saya ada secangkir teh hangat yang perlahan mengepul.
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Waktu terasa berjalan lebih pelan, namun juga lebih berharga.
Saya teringat hari-hari sebelum Ramadhan. Pagi dimulai dengan terburu-buru, siang dipenuhi pekerjaan, malam habis untuk hal-hal yang kadang tidak kita sadari manfaatnya. Seolah waktu selalu kurang, padahal yang kurang mungkin bukan waktunya, melainkan kesadaran kita.
Di bulan ini, hal kecil terasa lebih bermakna. Menunggu azan maghrib, menahan diri saat emosi datang, atau sekadar meluangkan waktu membaca beberapa ayat Al-Qur'an.
Semua terasa seperti pengingat lembut bahwa hidup sebenarnya tidak perlu selalu tergesa.
Suatu sore, saat menunggu waktu berbuka, saya melihat seorang bapak tua di depan warung kecil. la duduk tenang sambil menghitung kembalian untuk pembeli terakhirnya. Tidak terburu-buru, tidak gelisah.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu menyentuh hati saya. la seperti sedang mengajarkan sesuatu tanpa kata-kata bahwa menghargai waktu bukan berarti berlari lebih cepat, tetapi hadir sepenuhnya di setiap momen.
Ramadhan seolah mengajari kita seni itu, seni berhenti sejenak, seni memperlambat langkah, dan seni merasakan hidup dengan lebih sadar.
Ramadhan mungkin hanya datang sekali dalam setahun, tetapi pelajaran tentang waktu seharusnya kita bawa sepanjang hidup.
Mari kita belajar menghargai setiap detik yang Allah titipkan kepada kita. Kita gunakan waktu untuk berbuat baik, memperbaiki diri, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Karena waktu yang kita jalani dengan kesadaran akan selalu lebih bernilai daripada waktu yang berlalu tanpa makna.
"Waktu adalah amanah kehidupan. Ketika kita menjaganya dengan kesadaran, ia akan mengubah hari-hari biasa menjadi perjalanan penuh makna." Hafasa Academy
