#CeritaHK
ESQNews.id, JAKARTA - Hari itu target meleset. Angka-angka di layar rapat seperti menuding wajahku. Sebagai atasan, aku berdiri paling depan, menanggung tekanan dari atas, sekaligus menyalurkannya ke bawah. Suaraku meninggi. Kata-kataku tajam.
Aku merasa sedang menegakkan disiplin, padahal mungkin sedang mengiris kepercayaan. Wajah timku tenang, terlalu tenang. Tidak ada perlawanan. Tidak ada pembelaan. Sunyi yang membuat dadaku panas.
Ramadhan sedang berjalan. Perut kosong, kepala penuh. Aku pulang dengan amarah yang belum selesai. Malam itu, di sela tarawih, aku tersentak oleh satu kesadaran, puasa bukan hanya menahan lapar, tapi menahan ego. Aku berdoa singkat, meminta hati yang mau mendengar.
Keesokan paginya, aku datang lebih awal. Aku melihat kerja sunyi mereka, teliti, sabar, tetap rapi meski kemarin terluka. Di situlah hatiku runtuh. Aku memanggil rapat lagi. Kali ini aku duduk, bukan berdiri.
Aku mengakui caraku keliru. Aku membuka ruang. Aku mendengar, tanpa menyela. Cerita mengalir, hambatan lapangan, proses yang terlewat, ide yang tertahan karena takut disalahkan. Ada haru, ada lega, ada senyum yang kembali.
Aku belajar bahwa tekanan bisa diubah menjadi motivasi jika disampaikan dengan empati. Puasa melatihku menahan reaksi dan memilih refleksi. Standar tetap tinggi, arah tetap jelas, tetapi cara menyampaikannya harus memuliakan manusia.
Hari-hari berikutnya, ritme kerja membaik. Bukan karena kami bebas dari masalah, melainkan karena kami saling percaya.
Mendengar adalah bentuk kepemimpinan. Puasa mengajarkan bahwa ketegasan tanpa empati hanya melahirkan jarak.
Mari kita memimpin dengan kesadaran. Mari kita ubah tekanan menjadi ruang tumbuh. Mari kita dengarkan lebih dalam, agar kita melangkah lebih jauh bersama.
“Pemimpin terbaik adalah mereka yang paling banyak mendengarkan.” — Peter Drucker