ESQNews.id, SABANG – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh sukses menyelenggarakan program Retret Kepemimpinan intensif bertajuk "Menyatukan Visi & Membangun Kolaborasi" yang berlangsung di IE Resort, Kota Sabang, pada 17 hingga 20 Mei 2026. Program ini bersinergi dengan ACT Consulting International (ESQ).
Kegiatan strategis yang diikuti oleh 62 pejabat teras dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ini diinisiasi sebagai langkah konkret menjawab tantangan birokrasi modern yang menuntut Aparatur Sipil Negara (ASN) bergerak lebih lincah (agile), kolaboratif, serta memiliki ketahanan mental dan spiritual yang kokoh di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Pelatihan yang berlangsung selama empat hari tiga malam ini dipandu langsung oleh tim trainer ESQ berlisensi dari pakar pembangunan karakter nasional, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, yakni Coach Bramanto Wibisono dan Coach Akbar.
Melalui pendekatan komprehensif, program ini difokuskan untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), mempertajam kemampuan komunikasi, serta memperkuat fondasi spiritual para pemimpin birokrasi di lingkungan Pemko Banda Aceh agar mampu menghasilkan pelayanan publik yang prima dan berdampak nyata.
"Hari ini kita berkumpul dalam kegiatan Retreat Pemko Banda Aceh dengan semangat untuk menyatukan visi, membangun kolaborasi, dan memperkuat kepemimpinan yang membawa keberkahan bagi rakyat.
Retreat ini bukan sekadar kegiatan santai atau kebersamaan biasa. Ini adalah momentum untuk mengumpulkan energi, menyamakan arah, dan menguatkan kembali komitmen kita sebagai pemimpin dan pelayan masyarakat," ujar Illiza Sa’adudin Jamal, Wali Kota Banda Aceh dalam arahan resminya di Sabang.

Illiza menegaskan bahwa kepemimpinan sejati selalu diuji oleh tekanan dan dinamika sosial yang tinggi. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu berdiri teguh dan berpikir jernih demi menjaga soliditas organisasi.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan kembali capaian kepemimpinan guna memastikan setiap kebijakan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.
"Pada akhirnya, kepemimpinan adalah amanah. Jika orientasi kita adalah umat dan rakyat, maka setiap kerja akan bernilai ibadah dan menjadi ladang pahala.
Karena itu, mari terus memperbaiki niat, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kepemimpinan yang rukun, kompak, solid, serta saling mendukung. Pengabdian hidup untuk Allah, demi negeri dan rakyat," tambah Illiza.
Arah Strategis dan Fondasi Utama Pelatihan
Program Retret Kepemimpinan ini dirancang secara khusus untuk mencapai lima tujuan strategis bagi para peserta, yang diturunkan ke dalam metodologi pelatihan birokrasi modern:
1. Metode Experiential Learning: Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan sinergi antar-peserta melalui simulasi pengalaman langsung, sehingga setiap individu mampu menjalankan peran, tanggung jawab, dan pelayanan secara optimal dengan semangat kerja sama.
2. Implementasi TalentDNA: Membekali peserta dengan pemahaman mengenai TalentDNA sebagai alat bantu (life tools) untuk mengenali karakter, perilaku, potensi alami, serta kekuatan diri demi membangun komunikasi kerja yang adaptif dan efektif.
3. Penguatan Kesadaran Diri (Self-Awareness): Membangun fondasi kepemimpinan yang efektif agar ASN mampu memahami emosi, nilai hidup, motivasi, serta keterbatasan diri dalam mengemban tugas negara.
4. Keseimbangan Tri-Kecerdasan (IQ, EQ, SQ): Mengembangkan kemampuan peserta dalam mengelola keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual agar bijaksana dalam menghadapi tantangan kerja yang kompleks.
5. Penemuan Nilai Pengabdian Tertinggi (Grand Why): Menanamkan dorongan spiritual mendalam untuk menjadikan setiap tugas birokrasi sebagai bentuk pengabdian dan kontribusi terbaik bagi masyarakat serta Pemerintah Kota Banda Aceh.
Dampak Positif dan Transformasi Mindset Aparatur
Dampak transformatif dari pelatihan ini dirasakan langsung oleh para peserta. Asisten Pemerintahan Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Banda Aceh, T.M Syukri Wardhana, S.STP, M.Si, mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap proses pembelajaran yang dinilai berhasil membuka wawasan dan meluruskan cara pandang yang kurang tepat dalam birokrasi selama ini.
"Kami menyadari bahwa masih banyak perspektif dan cara pandang kami yang selama ini kurang tepat. Namun melalui proses pembelajaran yang luar biasa ini, seluruh pola pikir tersebut dapat diluruskan dengan sangat baik.
Program ini memiliki dampak yang sangat besar bagi pengembangan budaya kerja. Menurut kami, minimal seluruh pejabat di Pemko Banda Aceh wajib mengikuti program ini karena membawa perubahan positif dalam cara berpikir, berkomunikasi, dan memandang tugas sebagai pelayan masyarakat," ungkap T.M Syukri Wardhana.
Ia juga berharap program ini dapat terus berlanjut hingga menyentuh seluruh lapisan ASN di jajaran Pemko Banda Aceh.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Kota (BPKK) Banda Aceh, H.T Novizal Aiyub, SE., Ak. Baginya, retret ini memberikan ruang refleksi yang sangat berharga di tengah padatnya rutinitas menangani keluhan dan dinamika kebutuhan masyarakat.
"Bagi saya pribadi, ini merupakan pengalaman retret pertama seumur hidup, dan memberikan kesan serta pembelajaran yang sangat mendalam. Keseharian kami dipenuhi tanggung jawab rutin dan keluhan masyarakat yang menyedot energi.
Program ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak, memperbaiki cara pandang, sekaligus mengisi kembali energi positif. Kami merasa lebih segar, tenang, dan siap kembali melaksanakan amanah pekerjaan dengan semangat baru," tutur H.T Novizal Aiyub.
Esensi ESQ untuk Birokrasi yang Akuntabel

Dalam sesi pelatihannya, Coach Bramanto Wibisono menekankan lima poin esensial yang diajarkan kepada jajaran Pemko Banda Aceh di antaranya TalentDNA sebagai instrumen strategis guna membantu ASN memahami pola kerja alami dan potensi diri untuk kolaborasi yang solid.
Kemudian, Self-Awareness sebagai kunci utama kepemimpinan berintegritas demi pengambilan keputusan yang jernih.
"Selain itu, Nilai Kolaboratif seperti harmony, collaborator, flexible, dan focused guna menyelaraskan visi pribadi dengan tujuan besar organisasi.
Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ agar pelayanan yang diberikan tidak sekadar bersifat administratif, melainkan memiliki dampak sosial yang luhur.
Serta Grand Why, sebuah konsep tujuan hidup bermakna yang menjadi motor penggerak motivasi berkelanjutan bagi ASN dalam mengabdi kepada bangsa dan negara," papar Coach Bram.
Dengan berakhirnya retret ini, jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh berkomitmen untuk mentransformasikan seluruh hasil pembelajaran ke dalam aksi nyata, demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, harmonis, serta berorientasi penuh pada kesejahteraan masyarakat Kota Banda Aceh.