NEWS
ESQNews.id, JAKARTA – Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Ditjen Badilag) Mahkamah Agung RI menggelar webinar strategis bertajuk "Mental Health Awareness: Resiliensi Hakim dan Aparatur Peradilan Agama dalam Menghadapi Tekanan Psikologis dan Kompleksitas Perkara" pada Rabu 13 Mei 2026. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap meningkatnya beban kerja dan tekanan mental yang dialami para garda terdepan keadilan di Indonesia.Acara dibuka langsung oleh Dirjen Badilag, Drs. H. Muchlis, S.H., M.H., dengan menghadirkan narasumber utama, Founder ESQ, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian. Webinar ini diikuti oleh ribuan peserta melalui platform Zoom dan live streaming sebagai bagian dari program learning hour internal Mahkamah Agung.Dalam sambutannya, Drs. H. Muchlis, S.H., M.H., menyapa secara virtual seluruh pimpinan pengadilan tingkat pertama dan jajarannya di lingkungan Peradilan Agama seluruh Indonesia. H. Muchlis menyoroti realita berat yang dihadapi para hakim. Saat ini, terdapat sekitar 2.800 hakim di Indonesia yang terpilih melalui proses sangat kompetitif. Sebagai gambaran, pada rekrutmen terakhir, hanya sekitar 300 hakim yang terpilih dari sekitar 9.000 pendaftar. Namun, prestasi tersebut berbanding lurus dengan beban tanggung jawab yang luar biasa besar."Hakim dan aparatur kita setiap hari berhadapan dengan perkara yang memiliki tekanan psikologis dan emosional tinggi. Keluhan mengenai kelelahan emosional, tekanan mental, dan beban kerja yang ekstrem bukan lagi hal yang bisa kita abaikan. Kami ingin memastikan mereka tetap tangguh secara mental," ujar Muchlis.Data menunjukkan dinamika pekerjaan yang menantang, termasuk mutasi yang telah dialami sekitar 700 hakim, yang berdampak pada keseimbangan kehidupan pribadi dan psikologis keluarga. Muchlis juga memaparkan landasan ilmiah dari kebijakan ini. Merujuk pada studi psikologi hukum, ia mengingatkan bahwa kualitas sebuah putusan sangat bergantung pada stabilitas emosional sang hakim. "Saat fungsi eksekutif otak menurun akibat kelelahan mental, yang dipertaruhkan bukan sekadar kesehatan pribadi, melainkan integritas keadilan itu sendiri. Kesalahan yudisial seringkali lahir bukan dari ketidakpahaman hukum, tapi dari kelelahan emosional yang tidak terkelola," tegasnya.Melalui program Mental Health Awareness ini, Ditjen Badilag ingin melakukan pergeseran paradigma secara institusional. Muchlis menyampaikan pesan tegas bahwa stres dan kelelahan bukanlah bentuk kelemahan pribadi, melainkan reaksi normal terhadap sistem yang menuntut.Ia berharap sesi bersama Prof. Ary Ginanjar Agustian ini menjadi momentum penyembuhan (healing) dan penguatan diri agar aparatur peradilan agama tidak hanya tangguh dan berempati, tetapi juga bahagia dalam menjalankan tugasnya.Drs. Arief Hidayat, S.H., M.M., selaku Sekretaris Dirjen Badan Peradilan Agama, menegaskan bahwa webinar kesehatan mental ini merupakan salah satu program prioritas Ditjen Badilag dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia. Dengan jumlah mencapai 13 ribu orang di seluruh Indonesia, hakim dan aparatur peradilan agama setiap hari memikul tanggung jawab besar, mulai dari penyelesaian perkara yang kompleks, pelayanan masyarakat, hingga tantangan geografis dan keterbatasan sarana yang ada di lapangan.Namun, di balik beratnya beban tersebut, Arief mengajak seluruh jajarannya untuk melihat profesi ini sebagai nikmat yang luar biasa. "Menjadi bagian dari Mahkamah Agung, khususnya di lingkungan Peradilan Agama, adalah sebuah kesempatan yang tidak dimiliki semua orang. Kita dipilih untuk menjaga keadilan dan menghadirkan kemanfaatan bagi umat," ujar Arief.Arief memberikan apresiasi tinggi kepada Prof. Ary Ginanjar Agustian atas kesediaannya berbagi ilmu. Ia meyakini bahwa institusi peradilan yang kuat tidak hanya dibangun di atas sistem dan teknologi yang canggih, tetapi juga oleh sumber daya manusia yang sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan bahagia dalam menjalankan pengabdiannya.Ia berharap momentum ini menjadi titik balik bagi aparatur untuk menemukan kembali jati diri mereka sebagai insan peradilan yang bekerja dengan hati.Mochamad Mirza, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku moderator sekaligus praktisi psikologi dari Biro Kepegawaian Mahkamah Agung RI, memperkenalkan Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian sebagai narasumber yang diharapkan mampu memberikan strategi coping yang adaptif bagi para peserta. Mirza juga berbagi refleksi pribadinya tentang bagaimana pelatihan ESQ yang ia ikuti sejak masa SMA masih membekas hingga saat ini, membuktikan kekuatan metode pemaknaan kerja yang akan disampaikan oleh sang Master Trainer.Transformasi Mental dengan Framework 5GMenanggapi kondisi yang ada di Ditjen Badilag, Prof. Ary Ginanjar Agustian membedah penguatan mental melalui pendekatan Framework 5G (Grand Why, Gift, Growth Mindset, Grind, dan Great Hope).Pendekatan ini mengajak para hakim untuk menemukan kembali makna terdalam (Grand Why) dari profesi mereka sebagai bentuk pengabdian.Ary Ginanjar juga menekankan pentingnya rasa syukur. Meski tekanan tinggi, posisi hakim merupakan posisi yang sangat berharga dan telah didukung oleh kesejahteraan yang baik dari negara, asuransi kesehatan first class, hingga fasilitas rumah dan transportasi."Permasalahan utama saat ini bukan lagi sekadar pemahaman materi atau kompetensi teknis, melainkan bagaimana hakim menemukan makna dalam bekerja. Kita harus membangun pola pikir positif dalam melihat tantangan," papar Ary Ginanjar.Melalui kegiatan ini, Ditjen Badilag menetapkan target ambisius: minimal 50% hakim dan aparatur diharapkan mengalami pemulihan mental dan peningkatan performa kerja secara signifikan. Selain webinar, Badilag juga mempertimbangkan solusi lanjutan seperti penggunaan TalentDNA untuk refleksi diri yang lebih autentik.Diharapkan, dengan mental yang lebih stabil dan rasa syukur yang kuat, para hakim dapat terus menjaga stabilitas performa dalam memberikan keadilan bagi masyarakat, meski di tengah kompleksitas perkara yang terus meningkat.Prof. Ary Ginanjar Agustian, juga mengapresiasi visi jajaran pimpinan Ditjen Badilag. Ia menggarisbawahi beberapa kata kunci strategis yang disampaikan oleh Dirjen Badilag, Drs. H. Muchlis, S.H., M.H., yaitu tangguh, berempati, dan bahagia, serta pesan dari Sekretaris Ditjen Badilag, Drs. Arief Hidayat, S.H., M.M., mengenai pentingnya menjaga pikiran tetap tenang, jernih, dan ringan.