Kampung tersebut adalah
satu Rukun Warga yang terdiri dari 140 Kepala Keluarga. Di situ, terdapat
mushalla kecil yang tidak ”hidup”.
Konon pernah ada
pengajian untuk anak-anak, namun entah mengapa akhirnya pengajian itu bubar.
Sehingga anak-anak mulai dari yang kecil hingga remaja tidak ada tempat untuk
mengaji dan belajar agama.
Ibu yang gelisah
melihat keadaan tersebut akhirnya membuka tempat mengaji di rumahnya dengan
mendatangkan guru ngaji. Ia juga membuka taman bacaan gratis untuk anak-anak di
sekitar rumahnya, agar mereka mencintai dan menyukai kegiatan membaca.
Apa yang terjadi
sungguh di luar dugaannya. Anak-anak ibu tersebut begitu semangat dan antusias.
Bila jam mengaji sudah dekat, mereka yang menyiapkan segala keperluan mengaji
di mushalla rumahnya.
Mereka menggelar
karpet, menyiapkan spidol dan alat lainnya. Mereka siapkan juga minuman dan makanan
untuk gurunya itu. Mereka juga biasa menjemput teman-temannya untuk datang
mengaji.

Jika ada sesuatu milik temannya
yang ketinggalan, mereka mengantarkan barang itu ke rumah temannya. Sikap tanggung
jawab dan kepedulianny muncul.
<more>
Ibu tersebut baru menyadari banyak manfaat positif ketika ia peduli pada lingkungan sekitarnya. Selain anak-anak di sekitar rumah mendapat tambahan pendidikan, akidah dan akhlak yang menjadi benteng pergaulan, namun juga memunculkan sifat-sifat positif anak sendiri.
Peduli pada anak berarti peduli pada lingkungan.
(Dikutip dari Buku Mendidik Karakter dengan Karakter karya Ida S Widayanti)