Senin, H / 02 Februari 2026

Ketua KPK Dorong Kementan Emas 2040, Ary Ginanjar Beberkan 'Grand Why' sebagai Senjata Utama Melawan Korupsi ASN

Senin 08 Dec 2025 22:45 WIB

Reporter :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar kegiatan akbar “Penguatan Budaya Integritas Bagi Pejabat dan CPNS Lingkup Kementerian Pertanian" pada tanggal 8 Desember 2025.


Bertempat di Gedung Kementan, Jakarta, acara ini dihadiri oleh sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari Pejabat Eselon I, II, III, dan IV, serta seluruh Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementan, baik secara offline maupun online. 


Acara ini menegaskan komitmen Kementan untuk mewujudkan visi “Pertanian Maju Berkelanjutan serta Bermanfaat bagi Rakyat Indonesia dalam Rangka Mewujudkan Visi Presiden dan Wakil Presiden: Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045” dengan fondasi integritas yang kokoh.


Karena Kementerian Pertanian mendapatkan amanah besar bukan hanya untuk menjaga pangan tetapi untuk menjaga kepercayaan dan integritas. Pertemuan ini adalah ruang untuk menguatkan kembali fondasi mental, mengasah kompas integritas dan menyatukan langkah menuju Kementerian Pertanian yang semakin bersih kuat dan berdaya saing.




Adapun para pejabat Kementan yang turut hadir di antaranya Dr. Ir. Suwandi, M.Si. (Sekretaris Jenderal), Dr. Ir. Hermanto, M.P. (Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian), Andi Nur Alam Syah, S.TP., M.P. (Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian),, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si. (Dirjen Hortikultura), Dr. drh. Agung Suganda, M.Si. (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan), Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. (Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian), Brigjen Pol. Kurniawan Affandi S.I.K., M.M (Inspektur Investigasi Inspektorat Jenderal), Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si. (Plt. Dirjen Perkebunan), 


Spesialnya, Kementan mengundang 3 narasumber utama yakni Komjen Pol. Drs. Setyo Budianto, SH., MH. (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi/KPK), Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ) dan Dr. Asep Iwan Iriawan, S.H., M.H (Dosen FH Universitas Trisakti).


Menjaga Amanah Pangan dan Integritas: Fondasi Kementan yang Bersih dan Berdaya Saing




Brigjen Pol. Kurniawan Affandi S.I.K., M.M (Inspektur Investigasi Inspektorat Jenderal)


Kurniawan Affandi, dalam laporannya menyampaikan bahwa “Tujuan utama kegiatan ini, yang kita laksanakan dalam rangka peringatan HAKORDIA 2025 di lingkungan Kementerian Pertanian, adalah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, efektif, dan akuntabel.


Kita hadir hari ini untuk memperkuat sistem pengawasan, membangun budaya antikorupsi, dan menanamkan nilai integritas di setiap lini organisasi. 


Hari ini kita memasuki salah satu kegiatan inti, yaitu penguatan integritas bagi pejabat dan CPNS bersama Bapak Ary Ginanjar dan Bapak Asep Iwan Iriawan. 


Kehadiran kedua narasumber ini bukan hanya untuk memberikan ceramah, tetapi juga mengajak kita untuk merenung, menyadari, dan menghayati kembali nilai-nilai moral yang menjadi dasar kita untuk mengabdi, serta memahami bahaya korupsi dari perspektif hukum, sehingga kita bisa menghindarkan perilaku-perilaku yang koruptif."


Menurutnya, Integritas tidak hanya ditanamkan kepada generasi baru, tetapi harus diteladankan oleh para pemimpin. Pemimpin harus menjadi role model dalam melakukan tindakan yang bersih, jernih dalam hati, dan bertanggung jawab dalam setiap keputusan.


"Para CPNS hadir karena masa depan Kementerian Pertanian ada di tangan mereka. Merekalah generasi yang akan melanjutkan cita-cita besar Kementerian Pertanian dalam mewujudkan Indonesia swasembada pangan dan sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Semua itu adalah fondasi yang dibangun oleh integritas," katanya.


Lebih lanjut, "Integritas bukan hanya soal mematuhi aturan, bukan sekadar menghindari perilaku korupsi. Integritas adalah kesatuan antara hati, pikiran, dan tindakan.


Itulah sebabnya acara ini mengusung Pendekatan ESQ yaitu pendekatan yang menguatkan mental, moral, dan spiritual kita dalam menghadapi tantangan etika di dunia kerja.


Di banyak kasus korupsi, kita melihat bahwa pelanggaran seringkali tidak muncul karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena lemahnya ketahanan moral. Oleh karena itu, penguatan mental seperti ini menjadi sangat penting.


Dr. Ir. Suwandi, M.Si. (Sekretaris Jenderal)




Sementara itu, sambutan Menteri Pertanian Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P., yang diwakili oleh Suwandi Sekjen Kementan mengatakan, “Saya mewakili Bapak Menteri Pertanian dan Bapak Wakil Menteri terkait dengan acara HAKORDIA ini. Hari ini kita berkumpul dengan tema besar 'Satukan Aksi Berantas Korupsi, Wujudkan Swasembada Pangan Berintegritas untuk Negeri'.


Beberapa tema utama yang ingin disampaikan adalah bagaimana kita menyatukan kekuatan kita secara sinergi dengan stakeholder untuk mencapai swasembada pangan secara berintegritas. 


Jadi, makna integritas BerAKHLAK harus dilakukan internalisasi kepada seluruh jajaran, dimasukkan ke hati masing-masing, dan dilaksanakan dalam bentuk tindakan-tindakan yang nyata di lapangan, serta diwujudkan dalam ucapan."




Sekjen melanjutkan, "Kami juga memperkuat upaya pengawasan. Bila ada masalah-masalah penyimpangan di lapangan, kami telah mengembangkan kanal khusus. 


Nomor WA 'Lapor Pak Amran' (082311109390) telah kami bagikan dan disebarluaskan. Ini dalam rangka menyelesaikan dan mengatasi kendala-kendala yang ada di lapangan dengan cepat."




Dihadapan ratusan CPNS Kementan, Sekjen menyampaikan, "Kalian adalah generasi baru. Saya ingin menyampaikan pesan khusus: Mulailah berkarir dengan benar. Jangan biarkan budaya buruk menjadi kebiasaan baru, jangan biarkan penyimpangan dianggap hal biasa, dan jangan pernah takut untuk berkata benar. Langkah-langkah ini bukan sekadar penegakan hukum, ini adalah perang moral."




Tak Lupa, Sekjen pun mengucapkan, "Terima kasih luar biasa kepada Bapak Ary Ginanjar Agustian dan ESQ yang sudah dari dulu berkontribusi terhadap pencerahan dan edukasi kepada jajaran Kementerian Pertanian. Ini adalah sistem yang berkelanjutan dan harus terus ditingkatkan. Semoga kegiatan ini menjadi momentum perubahan mendasar."


Komjen Pol. Drs. Setyo Budianto, SH., MH. (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi/KPK)




Berkenaan dengan anti korupsi dan integritas, Setyo Budianto Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hadir untuk menyampaikan arahannya melalui zoom meeting pada acara tersebut.


"Penghargaan dan apresiasi kepada Bapak Menteri, Bapak Wamen, Bapak Sekretaris Jenderal, dan seluruh pejabat, pegawai, CPNS Kementan yang hadir. Lalu, selamat datang kepada para narasumber, salah satunya yaitu Pak Ary Ginanjar, beliau adalah mentor saya. 


Dalam kesempatan ini, izinkan saya berbicara tentang HAKORDIA. Tentu, Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia ini adalah momentum untuk mengingat bahwa perilaku korupsi itu masih ada, dan kita harus terus melakukannya secara masif.


Saya berharap ini bukan hanya sekedar acara pada tanggal 9, tapi bisa dijadikan kegiatan dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember. Kuncinya ada di transparansi dan akuntabilitas. 


Seluruh jajaran, dari semua jabatan, semua eselon, dan seluruh pegawai harus bisa melaksanakan tata kelolanya dengan baik. Selama ada keinginan untuk transparan dan akuntabilitas, tidak ada masalah dalam urusan strategis swasembada pangan ini.


Saya secara pribadi condong bahwa pencegahan yang paling efektif adalah penindakan. Meskipun pendidikan dan pencegahan tetap harus dilakukan, namun kita harus terus membuka secara transparan.


Kepada para CPNS yang hari ini pakai baju putih, pakai dasi, kalian akan banyak berinteraksi dengan hal baik dan hal yang kurang baik. Ambil yang tidak baik itu sebagai sebuah catatan dan pengalaman, bukan untuk dikerjakan.


Kalian punya tanggung jawab besar sebagai penerus di Kementerian Pertanian. Bebannya berat, kalau tidak diiringi dengan integritas dan mengantisipasi konflik kepentingan, ini bisa merusak dan menurunkan citra.


Karena di sini ada Pak Ary Ginanjar juga, dan Pemerintah menargetkan Indonesia Emas di 2045, khusus untuk Kementerian Pertanian, supaya dapat ruh-nya, jiwanya, dan soul-nya, kalau perlu dipercepat jangan 2045.


Tolong usulkan kepada Bapak Menteri: Kementerian Pertanian Emas 2040! Berani? Ini supaya ada percepatan dan akselerasi yang lebih dibandingkan dengan kementerian lain.”


Penguatan Integritas dan Transformasi Talenta Kementan




Dalam sesi pencerahan yang khas dan mendalam, Ary Ginanjar Agustian menyampaikan dua pilar utama yang harus dimiliki ASN Kementerian Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan yang berintegritas dan mencapai target Kementan Emas 2040 yakni Fondasi Integritas (Berpusat pada Grand Why (Niat Agung)) serta Transformasi Manajemen Talenta Berbasis AI (TalentDNA).


Ary Ginanjar menekankan bahwa perjuangan melawan korupsi harus dimulai dari individu itu sendiri. Ia mengutip Kofi Annan (Former Secretary-General of United Nations): "The fight against corruption begins with the integrity of the individual," seraya menambahkan bahwa tidak ada institusi yang lebih hebat daripada karakter orang yang menjalankan tugas di dalamnya.


Untuk itu, Ary Ginanjar mengajak seluruh peserta untuk mengidentifikasi sumber korupsi yang paling berat, yang berpusat pada orientasi eksternal. Sumber-sumber ini mencakup money, possession, work, pleasure, friend, enemy, relegion, self, spouse, family, serta faktor-faktor luar lainnya yang menggeser fokus utama seorang abdi negara.


Ia mengajarkan bahwa pusat orbit yang benar haruslah Spiritualitas yang melahirkan Grand Why atau Niat Agung (Pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa).


“Prinsipnya bukan uang, bukan posisi, bukan jabatan, tapi Grand Why.”


Seorang ASN harus mampu memahami arti kata mengabdi dan menjaga integritas, yang didefinisikan sebagai keselarasan antara perkataan, pikiran, dan tindakan.


Dalam menghadapi potensi praktik koruptif, Ary Ginanjar menyoroti bahaya bersikap Pasif (membiarkan penyimpangan) dan mengajarkan pentingnya menolak dengan sikap Asertif. Asertif berarti menolak dengan tegas ("Saya tidak bisa terima ini, minta maaf.") namun tetap menjaga hubungan baik, agar organisasi tidak rusak.


Untuk mencapai target-target besar seperti Swasembada Pangan dan Kementan Emas 2040, diperlukan kombinasi tiga elemen inti yakni 1) Heart (Jujur dalam hati) Integritas dan Spiritual, 2) Head (Teguh dalam prinsip) Kompetensi dan Intelektual, 3) Guts (Berani dalam tindakan).


Kemudian, Pilar kedua yang disoroti adalah pentingnya Manajemen Talenta yang presisi untuk memastikan setiap ASN bekerja sesuai dengan potensi terbaiknya, sekaligus sebagai langkah pencegahan korupsi yang efektif.


Ary Ginanjar memaparkan persoalan klasik yang sering terjadi bahwa adanya Fakta menunjukkan 74% organisasi merekrut orang yang salah, yang mengakibatkan kerugian besar (rata-rata hingga Rp380 juta per orang).


Sebaliknya, ia mengutip riset dari Nebraska University bahwa “Jika talenta seseorang dikembangkan sesuai bakatnya, prestasinya bisa meningkat hingga 788%.”


Untuk mengatasi masalah penempatan yang salah, Ary Ginanjar memperkenalkan TalentDNA yang telah digagasnya 24 tahun yang lalu, sebuah metode yang kini ditransformasi secara digital berbasis AI.


TalentDNA adalah metode untuk mengidentifikasi kecenderungan pola perilaku alami, natural, dan spontan setiap individu, yang mengungkap algoritma perilaku unik setiap orang.


Menggunakan analogi yang sangat relevan dengan Kementerian Pertanian, Ary Ginanjar menjelaskan filosofi penempatan yang tepat:


“Tidak mungkin kaktus ditanam di tempat yang dingin. Begitu juga manusia, kita semua istimewa. Jika kita meminta seekor ikan naik ke atas pohon, kita akan menganggap ikan itu bodoh seumur hidupnya.”


Tugas Kementan, menurutnya, bukan hanya menumbuhkembangkan tanaman, tetapi juga mewujudkan Swasembada SDM di mana setiap pegawai ‘ditanam’ di tempat yang sesuai bakat alaminya, sehingga mereka dapat hidup bahagia, percaya diri, dan berprestasi optimal.


Testimoni


Kurniawan Affandi sampaikan, “Menurut saya, kita perlu membangun kekuatan moral, moral untuk berbuat baik dan berbuat benar. Untuk itu, kita perlu membangun moral spiritual maupun intelektualnya. 


Jadi, materi dari Bapak Ary Ginanjar Agustian memang sangat pas, dan ini bisa masuk menjadi satu bagian dari pembangunan moral dan mental, khususnya dalam pemberantasan korupsi.


Pasca kami mendapatkan pencerahan dari beliau, khususnya terkait bagaimana kita harus membangun integritas dari perspektif ESQ, baik itu Emotional Quotient, Spiritual Quotient, maupun Intellectual Quotient itu sangat luar biasa. 


Tadi beliau membuka wawasan kita, salah satu yang paling menarik adalah cara kita menaikkan integritas, yaitu ketika integritas yang baik adalah sejalan antara syariat dengan hakikat.


Beliau juga mengajarkan bagaimana kita harus memposisikan diri menjadi pegawai yang betul. Dari tiga contoh yang beliau berikan (Strong Why, Big Why, dan Grand Why), yang paling cocok adalah kita harus menjadi person yang berada pada posisi Grand Why (Pengabdian kepada Tuhan).


Kami berharap sekali Bapak Ary Ginanjar dapat terus memberikan pencerahan ESQ, sehingga semua pegawai dan CPNS moralnya semakin meningkat, terutama dalam rangka mencegah perilaku koruptif dan membangun integritas yang kuat di lingkup Kementerian Pertanian."


drh. Maidaswar, M.Si., (Fungsional Medik Veteriner dan Tim SPI Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan) menuturkan, “Terima kasih kepada Bapak Dr. Ary Ginanjar Agustian bersama tim yang telah memberikan materi pembangunan integritas dan juga mapping talent berbasiskan TalentDNA AI.


Saya pikir pembangunan integritas ini sangat dibutuhkan ke depan dalam membangun Indonesia, karena integritas akan mendukung efisiensi dalam program dan kebijakan, sehingga menghasilkan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.


Kemudian, urgensi daripada mapping talent ini sangat diperlukan, tidak hanya kepada pegawai yang baru, tetapi juga pemimpin pada semua level di pemerintahan. 


Dengan demikian, akan diketahui kompetensi dari setiap pegawai ataupun calon pejabat. Hal ini penting agar pegawai dapat bekerja sesuai dengan passion masing-masing, sehingga mereka akan bekerja dengan motivasi yang tinggi dan ikhlas demi pembangunan Indonesia."


Nur Wanto C. Negoro (Ketua Panitia HAKORDIA 2025 Kementan sekaligus Auditor Ahli Madya Kementan katakan, “Saya sangat tertarik dengan konsep Manajemen Talenta yang disampaikan Bapak Ary Ginanjar. 


Menurut saya, dengan talent management ini, seseorang itu akan ditempatkan sesuai dengan potensi maksimalnya atau potensi yang optimal, sehingga dia bekerja sesuai dengan passion-nya dan diharapkan akan mendapatkan hasil yang juga optimal.


Selain itu, dengan menggunakan basis Artificial Intelligence (AI) seperti yang disampaikan tadi, keputusan penempatan seseorang melalui manajemen talenta akan menjadi sangat objektif, bukan subjektif.


Sehingga dapat mereduksi atau meminimalisir faktor like and dislike. Harapannya, ini akan sangat membantu mengurangi dan meminimalisir konflik kepentingan.


Kepada Dr. Ary Ginanjar Agustian selaku Founder ESQ, semoga ESQ-nya terus maju, tambah berkembang, dan dapat memberikan manfaat yang besar kepada Kementerian Pertanian khususnya, dan kepada Indonesia umumnya.”


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA