ESQNews.id, JAKARTA - Malam itu saya duduk sendirian dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hari terasa panjang, tetapi hati justru terasa kosong
Saya membuka buku catatan, lalu mulai menulis.
Awalnya hanya satu kalimat. Lalu menjadi beberapa paragraf. Saya menulis tanpa berpikir rapi, tanpa memikirkan siapa yang akan membaca. Saya hanya jujur.
Tentang lelah yang saya rasakan. Tentang harapan yang belum terwujud. Tentang doa-doa yang saya simpan dalam diam.
Semakin saya menulis, semakin saya merasa seperti sedang memeluk diri sendiri.
Ada ketenangan yang perlahan hadir. Seolah-olah tulisan itu berkata, "Tidak apa-apa, kita sedang berproses."
Beberapa hari kemudian, saya memberanikan diri membagikan tulisan itu.
Saya tidak berharap banyak. Hanya ingin berbagi.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Pesan demi pesan masuk.
"Saya menangis membaca ini."
"Saya merasa ditemani." "Tulisan ini seperti pelukan di saat saya sedang lelah."
Saya terdiam.
Ternyata, apa yang saya tulis untuk menyembuhkan diri sendiri, justru menjadi penguat bagi orang lain,
Di situlah saya memahami bahwa tulisan yang jujur tidak hanya menyentuh, tetapi juga menghubungkan hati.
Menulis bukan sekadar merangkai kata la adalah ruang untuk berdamai dengan diri, dan jembatan untuk saling menguatkan.
Mari kita mulai menulis, bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk menjadi jujur.
Kita tulis apa yang kita rasakan, apa yang kita pelajari, dan apa yang ingin kita syukuri. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu menunggu siap.
Karena bisa jadi, tulisan sederhana kita adalah pelukan bagi diri sendiri dan bagi seseorang yang sedang membutuhkan.
"Tulisan adalah suara hati yang menemukan jalannya untuk didengar."
