ESQNews.id, JAKARTA - Hari itu ruang rapat terasa lebih panas dari biasanya. Target perusahaan belum tercapai, laporan berulang kali saya koreksi, dan tekanan dari manajemen terus berdatangan. Sebagai atasan, saya merasa harus tegas.
"Ini bukan standar yang kita sepakati," suara saya terdengar lebih keras dari yang saya rencanakan.
Ruangan mendadak hening. Beberapa anggota tim menunduk. Ada yang menatap layar laptopnya seolah mencari perlindungan. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang melawan. Mereka hanya diam.
Anehnya, justru diam itulah yang membuat hati saya tidak nyaman.
Rapat selesai. Tidak ada perlawanan, tidak ada drama, tidak ada yang mengajukan resign. Mereka tetap bekerja seperti biasa. Namun suasana tim berubah. Tidak ada lagi candaan kecil di pagi hari. Tidak ada diskusi ringan di sela pekerjaan.
Malamnya, saya duduk sendiri di meja kerja. Lelah, tetapi pikiran saya berisik. Saya teringat wajah mereka saat saya meninggikan suara.
Saat itulah saya sadar, terkadang seorang atasan merasa sedang memperbaiki sistem, padahal tanpa sadar sedang melukai hati.
Keesokan paginya saya mengumpulkan tim. Kali ini saya tidak banyak bicara. Saya hanya menarik napas panjang dan berkata pelan, "Kemarin saya terlalu keras. Jika ada yang terasa tidak nyaman, saya mohon maaf."
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada reaksi dramatis. Hanya senyum kecil yang mulai kembali muncul.
Saat itu saya belajar sesuatu yang sederhana namun dalam, tidak semua kepemimpinan harus ditunjukkan dengan suara keras. Kadang justru diam, mendengar, dan merenung lebih bermakna.
Terkadang konflik tidak selalu membutuhkan pembelaan. Kadang ia justru menjadi cermin untuk melihat diri kita sendiri lebih jujur.
