Senin, H / 02 Februari 2026

Jaladara Madiya Buwana: Jejak Danau Purba Cikijing yang Lahir dari Letusan Gegerhalang

Jumat 09 Jan 2026 13:58 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: Infomjlk

ESQNews.id, MAJALENGKAPernahkah kalian membayangkan bahwa hamparan perbukitan hijau di Cikijing dulunya adalah sebuah danau raksasa yang tenang?

Legenda dan alam seringkali menyimpan rahasia yang sama, dan inilah kisah Danau Purba Cikijing, atau yang dikenal dengan nama Jaladara Madiya Buwana.

Kisah ini dimulai ribuan tahun lalu. Berdasarkan asumsi geografis dan mitos masyarakat setempat, wilayah Cikijing diperkirakan terbentuk bersamaan dengan lahirnya Gunung Gegerhalang.

Sekitar 7.000 tahun yang lalu, sebuah letusan dahsyat meluluhlantakkan Gegerhalang dan melahirkan Gunung Ciremai yang kita kenal sekarang.

Dari sisa-sisa aktivitas vulkanik ini, terbentuklah sebuah cekungan raksasa di ketinggian 600-650 mdpl.

Dengan luas mencapai 29,07 km^2, danau ini dikelilingi oleh benteng alam berupa deretan gunung dan bukit seperti Gunung Ciremai di utara, Gunung Gijalangu di selatan, hingga Gunung Pagentaran dan Gunung Soang di sisi timur.

Pada tahun 929 M, sejarah mencatat kedatangan Sanghiyang Rongkob dari Kerajaan Medang (Mataram Kuno).

Beliau membuka wilayah yang disebut Alas Talaga di sisi selatan Gunung Ciremai. Di tepian danau yang subur inilah, sebuah peradaban mulai bersemi:

 – Penyebaran ajaran Hindu yang damai.
 – Berdirinya Nagari Padabenghar.
 – Masyarakat mulai bercocok tanam Jawawut (sejenis gandum) yang tumbuh subur berkat limpahan air danau.

Namun, keindahan Jaladara Madiya Buwana tidak abadi. Pada tahun 1129 M, sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah tersebut.

Tanggul alam yang menahan air danau jebol, menyebabkan danau purba ini mengering dalam waktu singkat.

Air yang tumpah dari cekungan tersebut kemudian membentuk aliran sungai baru yang kini kita kenal sebagai Sungai Cilutung. Danau yang megah pun sirna, menyisakan daratan luas yang subur.

Kini, bekas dasar danau purba tersebut telah berubah menjadi lahan pertanian yang produktif. Masyarakat setempat menanaminya dengan padi, dan wilayah ini bertransformasi menjadi daerah yang kini dikenal sebagai Sawahlega atau Tegal.

Meskipun airnya telah lama surut, memori tentang Jaladara Madiya Buwana tetap hidup dalam balutan mitos, naskah kuno, dan kesuburan tanah yang hingga kini menghidupi masyarakat Cikijing dan sekitarnya. [infomjlk]

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA