Boleh jadi perilaku kekerasan ini dicontohkan oleh orangtua,
yang kemudian mengakibatkan terbentuknya kepribadian anak yang pemarah, kasar,
dan beringas.
Anak pun menjadikan kekerasan fisik untuk menyelesaikan
persoalan hidupnya. Dengan demikian, ia menjadi tak segan memukul atau
menyakiti teman-temannya maupun saudaranya sendiri.
Anak-anak usia di bawah tiga tahun yang belum bisa mengungkapkan
isi hatinya dengan jelas kadang menggunakan dukungan fisik, seperti memukul,
mencubit, dan lain-lain untuk menyelesaikan masalahnya.
Namun seiring bertambah usia dan kemampuan bahasanya, maka cara-cara tersebut seharusnya sudah mulai harus ditinggalkan.

Keteladanan dan dukungan orangtua perlu terus dikuatkan pada anak. Namun, jika orangtua memberi contoh dengan kekerasan, anak pun akan menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar dari permasalahannya.
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam seluruh perkara.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
(Mengutip dari Buku Mendidik Karakter dengan Karakter Karya Ida S Widayanti)