Senin, H / 13 April 2026

Dari Sampah Jadi Pangan: Warga Petik Manfaat Program Sirkular

Sabtu 21 Feb 2026 21:59 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: infobdg

ESQNews.id, BANDUNG - Satu tahun perjalanan Program Sirkular Bandung Utama menghadirkan wajah baru pengelolaan lingkungan sekaligus penguatan ketahanan pangan di Kota Bandung.


Program ini menjadi salah satu model integrasi kebijakan yang menghubungkan persoalan sampah, pangan, dan gizi keluarga dalam satu ekosistem berkelanjutan.


Melalui kolaborasi tiga program utama Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dashat Pemerintah Kota Bandung membangun sistem sirkular yang mengelola sumber daya dari hulu hingga hilir.


Sampah organik diolah menjadi kompos, kompos dimanfaatkan untuk urban farming, hasil panen digunakan dapur sehat, sementara sisa dapur kembali masuk ke proses pengolahan.


Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pemerataan keberadaan dapur sehat di tingkat kewilayahan.


“Kalau Buruan SAE dan pengolahan sampah rata-rata sudah ada. Yang kita pastikan sekarang adalah Dapur Sehat Atasi Stunting di tingkat kelurahan,” ujarnya.


Konsep sirkular yang dikembangkan Pemkot Bandung dikenal dengan nama Karasa. Sistem ini dirancang agar setiap komponen saling terhubung, menciptakan siklus yang minim limbah sekaligus memberi manfaat langsung bagi warga.


Pemkot Bandung juga memberikan perhatian khusus pada wilayah dengan keterbatasan lahan, terutama dalam pengelolaan sampah dan pengembangan kebun pangan. Skema adaptif disiapkan agar seluruh kelurahan tetap dapat berpartisipasi dalam sistem sirkular ini.


Di tingkat warga, manfaat program mulai dirasakan secara nyata. Warga Kelurahan Mekarjaya, Opi S. Inayah mengungkapkan bahwa kebun urban farming kini menjadi sumber pangan keluarga.


“Kami bisa menanam, memanen, dan hasilnya dimanfaatkan untuk dapur sehat. Ini gerakan yang terintegrasi dan sangat bagus,” ujarnya.


Hal serupa disampaikan Lismawati yang merasakan dampak langsung dari keberadaan dapur sehat.


“Dari hasil buruan lahir menu sehat untuk warga. Ini sangat menunjang penurunan stunting,” katanya.


Sementara itu, Ujang Mamat menilai gerakan pengelolaan sampah membawa perubahan pada kualitas lingkungan.


“Sampah organik dan non-organik sudah dikelola. Lingkungan jadi lebih nyaman,” tuturnya.


Salah satu contoh implementasi utuh program terlihat di wilayah Kecamatan Rancasari. Di kawasan ini, rantai sirkular berjalan konsisten mulai dari pemilahan sampah, pengolahan kompos, pemanfaatan kebun pangan, hingga distribusi hasil panen untuk dapur sehat.


Model tersebut menunjukkan bahwa pendekatan sirkular tidak hanya menjadi konsep kebijakan, tetapi mampu berjalan efektif di tingkat kelurahan dan RW. Perubahan pun dimulai dari ruang paling dekat dengan warga: halaman rumah, kebun kecil, dan dapur keluarga.


Satu tahun Program Sirkular Bandung Utama menjadi refleksi bahwa persoalan lingkungan, pangan, dan kesehatan dapat ditangani secara terpadu.


Lebih dari sekadar program, sistem ini kini menjadi simbol kolaborasi warga dan pemerintah dalam membangun kota yang lebih bersih, sehat, dan berdaya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA