ESQNews.id, BANDUNG - Di tengah gempuran era digital dan krisis kesehatan mental yang mulai melanda generasi muda, sebuah gerakan moral besar muncul dari jantung Kota Bandung. Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Jawa Barat bersama ESQ resmi memulai rangkaian Training ESQ Peduli Pendidikan untuk 1000 Guru, sebuah program tanggung jawab sosial (CSR) yang didedikasikan untuk memperkuat fondasi karakter para pejuang pendidikan.
Pelatihan di buka oleh Sekjen FKA ESQ yakni Gita A. Fadilla serta sambutan dari Ahmad Asikin Spd. M Mpd. selaku Kabid P3TK yang mewakili Kadisdik.
Batch pertama sukses digelar pada 27-28 Februari 2026 di Pusdiklat STIKes Dharma Husada Bandung, diikuti oleh 250 guru dari jenjang SD hingga SMA/SMK se-Bandung Raya secara gratis.
Apresiasi dari Sang Founder
Founder ESQ Corp, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas gerakan ini. Ia menyebut Korwil FKA ESQ Jabar sebagai korwil teladan di Indonesia karena konsistensinya menjalankan nilai-nilai Asmaul Husna dan prinsip 165.
"Gerakan membekali guru secara gratis ini adalah cahaya atau mutiara di tengah suasana zaman yang penuh tantangan. Ini adalah upaya tulus untuk menjaga ilmu 165 dan dedikasi nyata bagi masa depan bangsa," ungkap Ary Ginanjar.
Senada dengan hal tersebut, Yusuf Haryasa, selaku Korwil FKA ESQ Jabar, menegaskan urgensi pelatihan ini di tengah laporan adanya 10.000 siswa di Bandung yang mengalami gangguan kesehatan mental.
"Kita tidak perlu banyak bicara akan berbuat apa, tapi mari kita mulai dengan memberikan energi dan keyakinan kuat kepada gurunya," tegas Yusuf.
Melampaui Kecerdasan Intelektual
Dipandu oleh Coach Ramdhani (Trainer ESQ) para peserta dibawa dalam experience training yang mendalam. Coach Ramdhani menekankan bahwa di era kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT atau DeepSeek, kecerdasan intelektual saja tidak lagi cukup.
"Teknologi tidak bisa mengajarkan kesopanan, empati, dan dimensi spiritual. Inilah yang kita tanamkan selama dua hari: bagaimana pendidik memiliki ketangguhan mental karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya," jelas Coach Ramdhani.
Dukungan pun mengalir dari jajaran Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung, Nurbani dan Lilim. Mereka memandang pelatihan ini sangat krusial untuk meng-upgrade kompetensi guru dalam menghadapi tantangan berat seperti bullying, adiksi gawai, hingga isu LGBT.
"Pendidikan adalah fondasi. Jika gurunya kuat secara emosional dan spiritual, mereka bisa menyentuh hati siswa dengan cara yang tepat," ujar Nurbani.
Transformasi dari Ruang Kelas
Getaran perubahan dirasakan langsung oleh para peserta. Fitri dan Lany dari SDN 146 Gumuruh mengaku lebih tenang dan sabar dalam menghadapi dinamika murid SD, serta bertekad menjadikan aktivitas mengajar sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Sementara itu, Fauziah dari SDN 063 Kebon Gedang menyadari pentingnya menjadi role model yang masuk ke dunia Generasi Alpha.
Dari jenjang menengah, Samsul dan Abayu (SMPN 46 Bandung) serta Fani (SMP Daarut Tauhid) mengaku menemukan kembali kebahagiaan dalam mengajar melalui Star Principle. Bahkan, Maryani dari SMAN 26 Bandung berharap program ini menyebar ke seluruh Nusantara untuk membentengi remaja dari arus negatif zaman.
Kehadiran Agib, peserta termuda sekaligus Hafiz Al-Qur'an 30 juz, menambah haru suasana. Ia merasa training ini memperkuat keyakinannya bahwa saat Allah mencintai hamba-Nya, maka segala urusan akan dimudahkan.
Keberlanjutan Program
Program kolaborasi antara FKA ESQ Jabar, UPZ Baznas STIKes Dharma Husada, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Quran Cordoba, Nano Bank Syariah, dan PGRI ini akan berlanjut pada:
* Batch 2: 6-7 Maret 2026
* Batch 3: 12-13 Maret 2026 (Puncak acara di NHI Bandung)
Melalui visi membangun karakter "165", ESQ berharap para guru ini kembali ke sekolah mereka masing-masing sebagai agen perubahan yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, lahir maupun batin.
